<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6035754299018148413</id><updated>2011-04-21T14:18:30.917-07:00</updated><title type='text'>Buku Baru</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6035754299018148413.post-6448733983479753761</id><published>2009-05-31T01:04:00.000-07:00</published><updated>2009-05-31T01:13:45.988-07:00</updated><title type='text'>Seratus Buku Sastra Indonesia Yang Perlu Dibaca Sebelum Dikuburkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SiI7SAnJcjI/AAAAAAAAAXI/n7dpNyjeUq8/s1600-h/Seratus+Buku+Sastra+Indonesia_HITAM.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 156px; height: 246px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SiI7SAnJcjI/AAAAAAAAAXI/n7dpNyjeUq8/s320/Seratus+Buku+Sastra+Indonesia_HITAM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341897288602710578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Editor: An. Ismanto&lt;br /&gt;Penulis: An. Ismanto, Anna Elfira, AR Fiana, As’adi Muhammad, Burhan Fanani, FF Armadita, Fairuzul Mumtaz, Lukmanul Hakim, Minan Nuri Rahman, Mindiptono Akbar, M. Fahmi Amrulloh, Mujibur Rohman, Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Ridwan Munawwar, Wahmuji&lt;br /&gt;Penerbit: I:BOEKOE&lt;br /&gt;Tebal: 1001 hlm&lt;br /&gt;Ukuran: 15 x 24 cm (hard cover)&lt;br /&gt;ISBN: 978-979-15093-8-1&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Harga: Rp 400.000 [CETAK TERBATAS]&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini tidak bermaksud mengajukan suatu daftar ”buku-buku terbaik” ataupun ”buku-buku terpenting”. Tujuan utama buku ini adalah untuk menemui buku-buku karya sastra yang punya pengaruh besar dalam membangun pilar-pilar utama Pax Literaria Indonesia.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya, pengaruh semacam itu bukan hanya akan terasa di lapangan bahasa dan sastra belaka. Ada buku-buku yang memang hanya berpengaruh di lapangan itu saja tanpa diketahui khalayak yang lebih luas, tetapi lebih banyak lagi buku-buku yang pengaruhnya meloncati batas lapangan itu dan memasuki lapangan kemasyarakatan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar dari buku-buku itu ditolak dengan beberapa ukuran, yaitu:&lt;br /&gt;Pertama, tentu saja buku itu adalah buku karya sastra—dalam pengertian yang paling luas yang artinya akan mencakup buku-buku sajak, novel, esei, catatan perjalanan, biografi, novelet, cerita pendek, lakon/drama, fiksi dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ia harus ”menggoncang” kesusastraan Indonesia. ”Goncangan” itu dapat timbul akibat daya yang kokoh yang dimilikinya sebagai karya sastra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini diasumsikan bahwa sebuah karya sastra memiliki strukturnya sendiri yang komplet dan self-sufficient, sehingga ia dapat berdiri sendirian dan menjumpai pembaca, lantas membikin ”goncangan nurani” si pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, ia sendirian harus mampu bertahan di hadapan pisau ananlisis kritikus sastra dan pakar kesusatraan yang credible. Selain itu ia juga harus mampu memancing pembicaraan atau perdebatan yang luas di kalangan kesusastraan dan boleh jadi juga di kalangan masyarakat yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, buku itu tidak akan disisihkan bila memberikan pengaruh juga terhadap situasi kemasyarakatan secara umum, baik secara langsung maupun tidak, dengan dua tolak ukur: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesatu, buku itu masuk dalam sejarah sastra ”resmi”, artinya masuk ke dalam kurikulum pengajaran bahasa dan sastra Indonesia yang diajarkan di sekolah. Dengan tolak ukur ini maka semua karya yang tercantum dalam buku pelajaran bahasa Indonesia akan masuk dalam daftar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, akan diutamakan buku-buku yang memiliki ”alamat” dalam kehidupan sehari-hari, seperti misalnya Sitti Nurbaya yang sering dirujuk orang ketika berbicara tentang kawin paksa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, buku itu punya pengaruh yang nyata terhadap atau dalam kehidupan masyarakat walaupun tidak ”diakui” oleh kurikulum resmi, misalnya diminati masyarakat sehingga laris dalam penjualan atau membuka perspektif ”yang lain” dalam memandang isi ceritanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseratus buku sastra dalam buku ini disajikan secara urut berdasarkan tahun, mulai dari yang tertua (1919) sampai yang paling muda (2005). Dan ditulis oleh para penulis muda yang rata-rata berumur 25 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[CETAK TERBATAS]&lt;br /&gt;TERTARIK? HUB NO. 0888-6854-721 (MBAK NURUL HIDAYAH) atau email: iboekoe@gmail.com. RABAT HINGGA 20% SETIAP PEMBELIAN. BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM (DILUAR JOGJA&amp;JAWA)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6035754299018148413-6448733983479753761?l=bukubaru-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/feeds/6448733983479753761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6035754299018148413&amp;postID=6448733983479753761' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/6448733983479753761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/6448733983479753761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/2009/05/seratus-buku-sastra-indonesia-yang.html' title='Seratus Buku Sastra Indonesia Yang Perlu Dibaca Sebelum Dikuburkan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SiI7SAnJcjI/AAAAAAAAAXI/n7dpNyjeUq8/s72-c/Seratus+Buku+Sastra+Indonesia_HITAM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6035754299018148413.post-3544211198891953378</id><published>2009-05-12T02:42:00.000-07:00</published><updated>2009-05-12T02:55:00.314-07:00</updated><title type='text'>Seratus Pemberontakan di Nusantara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SglG7omny3I/AAAAAAAAAXA/mHQL3JCnTWQ/s1600-h/Pemberontak+Tak+(Selalu)+Salah_Coklat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 123px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SglG7omny3I/AAAAAAAAAXA/mHQL3JCnTWQ/s200/Pemberontak+Tak+(Selalu)+Salah_Coklat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334873223922699122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Penulis: Petrik Matanasi&lt;br /&gt;Editor: Agung dwi Hartanto&lt;br /&gt;Penerbit: I:BOEKOE&lt;br /&gt;Halaman: 539 hlm&lt;br /&gt;Ukuran: 15 x 24 cm (hard cover)&lt;br /&gt;Harga: Rp 300.000&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak selamanya, pemberontak itu pendurhaka. Pemberontak belum tentu pengkhianat. Pemberontak juga bukan orang gila yang, tanpa sebab, mengamuk semaunya. Pemberontak selalu punya alibi mengapa mereka berontak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontakan biasanya muncul sebagai reaksi atas ketidakpuasan. Ada penguasa yang bertindak tidak adil, atau melakukan tindakan  yang mengecewakan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Pemerintah Kolonial Hindia Belanda misalnya, yang memiskinkan kaum buruh—salah satunya kaum buruh keretapi yang melakukan pemogokan besar-besaran di tahun 1923. Pemberontakan awak kapal Zeven Proviencien juga dikarenakan pemerintah kolonial dirasa tidak peduli dengan kesejahteraan pelautnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontak, umumnya memperjuangkan kepentingannya yang telah diabaikan. Dengan bertaruh nyawa, pemberontakan menjadi jalan suci untuk memperjuangkan kemanusiaan para pemberontak maupun orang tertindas lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum pergerakan nasional Indonesia di  masa pergerakan awal abad XX juga dianggap pemberontak oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Meski tidak disebut pemberontak dalam pelajaran sejarah di sekolah, namun apa yang dilakukan kaum pergerakan nasional itu adalah sebuah pemberontakan lewat wacana-wacana kebangsaannya. Mereka melawan kekuatan besar yang melebihi daya mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada banyak pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia. Sejak zaman kerajaan Hindu, zaman feodal, hingga masa-masa sekarang ini. Jumlahnya lebih dari ratusan, namun banyak yang tidak tercatat dalam sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seratus Pemberontakan yang ditulis dalam buku ini juga hanya sebagian dari seluruh pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dengan pemberontakan Ken Arok pada tahun 1222 yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai kudeta pertama-tama yang terjadi di Indonesia hingga pemberontakan Bupati Pati pada Sutawijaya, raja Mataram Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontakan-pemberontakan pada masa kolonial, hingga pengibaran bendera RMS yang dilakukan kelompok neo RMS di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERTARIK? HUB NO. 0888-692-6884 (MBAK NURUL HIDAYAH) atau email: iboekoe@gmail.com. RABAT HINGGA 20% SETIAP PEMBELIAN. BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM (DILUAR JOGJA&amp;JAWA)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6035754299018148413-3544211198891953378?l=bukubaru-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/feeds/3544211198891953378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6035754299018148413&amp;postID=3544211198891953378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/3544211198891953378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/3544211198891953378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/2009/05/seratus-pemberontakan-di-nusantara.html' title='Seratus Pemberontakan di Nusantara'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SglG7omny3I/AAAAAAAAAXA/mHQL3JCnTWQ/s72-c/Pemberontak+Tak+(Selalu)+Salah_Coklat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6035754299018148413.post-5492810724044187253</id><published>2009-04-18T11:43:00.001-07:00</published><updated>2009-04-18T12:09:40.421-07:00</updated><title type='text'>Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanah Air Bahasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Seok6x7CWLI/AAAAAAAAAV8/0sx94FxC8B4/s1600-h/Seabad+Pers+Kebangsaan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 288px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Seok6x7CWLI/AAAAAAAAAV8/0sx94FxC8B4/s320/Seabad+Pers+Kebangsaan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326110101571000498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Judul Buku: Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanah Air Bahasa&lt;br /&gt;Supervisi: Taufik Rahzen&lt;br /&gt;Koordinator Riset dan Penulisan: Muhidin M Dahlan&lt;br /&gt;Periset: Agung Dwi Hartanto, Arahman Topan Ali, Argus Firmansah, Dian Andika Winda, Iswara N Raditya, Mahtisa Iswari, M Yuanda Zara, Petrik Matanasi, Reni Nuryanti, Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Sunarno, Tunggul Tauladan&lt;br /&gt;Lukisan sampul: Dipo Andy&lt;br /&gt;Penerbit: I:BOEKOE, Desember 2008&lt;br /&gt;Tebal: 1184 halaman (edisi hitam putih)&lt;br /&gt;Ukuran: 15x24 cm (hardcover)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hanya cetak terbatas, maka penerbit hanya menerima pesanan. Untuk pemesanan hubungi: 081328690269 (Ria/Jakarta) dan 08886854721 (Nurul/Jogja)&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CUPLIKAN PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangsaan adalah sebuah proses panjang dan melelahkan ihwal perumusan apa yang disebut identitas untuk pemuliaan manusia. Karena itu kebangsaan kerap disandingkan dengan perjuangan mencipta kondisi tumbuhnya situasi kemanusiaan yang di kemudian hari memadat menjadi semangat baru bernegara, yakni nasionalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan itu mengambil banyak bentuk dan varian dalam skema perjuangan. Sebelum abad 20, skema perjuangan dominan dilakukan lewat cara-cara peperangan dan adu pasukan di medan laga. Namun dalam dasawarsa pertama abad 20, pola perjuangan memasuki titik perubahan yang cukup signifikan. Titik perubahan itu dipicu oleh sebuah kesadaran baru tentang jalan cetak atau jalan pers. Sekaligus jalan pers ini menjadi semacam pembeda dengan jalan nasionalisme yang ditempuh India yang bertumpu pada hirarki kasta atau nasionalisme Rusia yang memperjuangkan perbenturan kelas dan melahirkan komunisme atau Inggris yang lahir dari gilda dan pasar para borjuis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tesis bahwa bangunan kebangsaan kita dididirkan dari tradisi pers bisa dilihat dari fakta sejarah bahwa nyaris seluruh tokoh kunci pergerakan kebangsaan dan nasionalisme adalah tokoh pers. Dan posisi mereka dalam struktur pers umumnya pemimpin redaksi (hoofdredakteur) atau paling rendah adalah redaktur. HOS Tjokroaminoto yang kita kenal sebagai salah satu “guru pergerakan” adalah pemimpin redaksi Oetoesan Hindia dan Sinar Djawa. “Tiga Serangkai” Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo menukangi De Express.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semaoen diusianya 18 tahun sudah memimpin Sinar Djawa yang kemudian berubah menjadi Sinar Hindia. Maridjan Kartosoewirjo menjadi reporter dan redaktur iklan di Fadjar Asia. Sebelum berkonsentrasi mengurus dasar pendidikan, Ki Hadjar Dewantara adalah pemimpin redaksi Persatoean Hindia dan bahu-membahu bersuara dalam majalah Pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Soekarno menjadi pemimpin redaksi Persatoean Indonesia dan Fikiran Ra’jat. Setelah pulang dari Belanda dan menjadi pemimpin redaksi majalah Indonesia Merdeka dalam Perhimpunan Indonesia (PI), Mohammad Hatta dan dibantu Sjahrir menakhodai Daulat Ra’jat. Bahkan Amir Sjarifuddin dalam Partindo menjadi pemimpin redaksi Banteng, serta masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau tingkat pendidikan mayoritas rakyat masih rendah, para tokoh pergerakan itu sadar bahwa lembar pers bisa dijadikan medium mengampanyekan ide-ide nasionalisme selain mimbar-mimbar pertemuan. Dengan pers pula pesan dan gagasan memiliki tingkat aksesibilitas dengan cakupan luas, terutama di kancah internasional. Selain itu, dan ini menjadi ciri dari masa percobaan ini, bahasa Indonesia memungkinkan dibentuk dan diberi rumah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi soal kemudian kapan permulaan pertama yang dengan kesadaran penuh menjadikan pers sebagai alat pergerakan dan menjadi kuda tunggangan pembibitan semangat membuat rumah bagi bahasa dan usaha menyatukan kolektivitas tanah dan air dalam semesta kesadaran berbangsa. Peritesis itu kemudian mempertemukan kita dengan sepotong nama Tirto Adhi Soerjo dan Medan Prijaji yang terbit pertama kali di Bandung pada 1907. Tahun 2007 adalah tepat seabad suratkabar mingguan dengan motto di kepala korannya: ja’ni swara bagai sekalian Radja2 Bangsawan Asali dan fikiran dan saudagar2 Anaknegri, lid2 Gomeente dan Gewestelijke Raden dan saudagar bangsa jang terprentah lainnja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadikan Medan Prijaji sebagai patok Seabad Pers Kebangsaan dialasdasari pertimbangan sebagai berikut: Pertama, bahwa Medan Prijaji berfungsi sebagai pers, baik tugasnya sebagai jurnalistik yang memberi kabar sekaligus mengadvokasi publiknya sendiri dari kesewenang-wenangan kekuasaan maupun kemauan untuk membangun perusahaan pers yang mandiri dan otonom. Terkait dengan tugasnya yang pertama ini, Tirto mesti berhadapan muka dengan kekuasaan kolonial yang bengis. Sekaligus Medan Prijaji dengan keberbedaannya itu berkesempatan gentayangan dan berkaok-kaok di daratan Eropa. Karena dianggap sebagai jurnalis paling berbahaya dan menunggang kuda petarung yang tak suka basa-basi seperti Medan Prijaji, Tirto kemudian menjadi incaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, visi Medan Prijaji yang tereksplisitkan dalam jargonnya yang beridentitaskan kebangsaan itu memberi implikasi pada keindonesiaan hari ini setelah Medan Prijaji tak ada. Kebangsaan yang dimaksudkan di sini adalah kebangsaan yang diikat oleh dialektika antara kolektivitas tanah air dan bahasa. Dari hubungan dialektika inilah muncul bangsa. Ketiga, konsepsi kebangsaan itu dibangun dengan cara sistematis. Selain jalan pers dengan mendirikan perusahaan yang menopang jalannya pers, Tirto juga turut memulai pergerakan lewat jalan berorganisasi. Titik tuju dua tradisi yang disatukan itu adalah penyemaian kesadaran berbangsa. Dari tangan Tirto lah muncul embrio organisasi yang bercorak seperti Boedi Oetomo, yakni ketika pada 1906 atau dua tahun sebelum Boedi Oetomo, ia mendirikan Sarekat Prijaji. Dan Tirto pulalah rancangan pertama Sarekat Islam yang melahirkan banyak sekali tokoh pergerakan, baik kiri, tengah, maupun kanan, saat dia mengonsep Sarekat Dagang Islamijah di Bogor dan kemudian dikembangkan Samanhudi di Surakarta. Tirtolah yang menyatukan tradisi pergerakan dan tradisi pers untuk satu tujuan, yakni kesadaran berbangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, karena dilakukan secara sistematis itulah maka posisi dan tindakan Tirto bukan sekadar sebagai historical piece atau irisan sejarah yang biasa, tapi membuat momentum sejarah di mana sejarah menjadi patok untuk aksi sejarah ketika semua peristiwa berkumpul pada saat itu dan orang menilai peristiwa itu sebelum dan sesudah peristiwa itu berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan Prijaji memberi dampak besar dan menginspirasikan gerak selanjutnya. Bahwa sudah ada yang terbit duluan, itu tidak jadi soal. Namun kita berbicara dampak bagi pembentukan mandat kebangsaan. Pada saat Medan Prijaji itulah momentum sejarah dipetakan dan perang terbuka di media massa diserukan. Bertitik tolak dari situ pulalah gerakan-gerakan kebangsaan itu mulai mengkristal, membangun gerakan kebudayaan dengan kantong-kantong organisasi modern, memaksimalkan pers sebagai alat perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kelima, Pramoedya Ananta Toer adalah orang yang dengan jernih melihat kehidupan semasa Tirto dan Medan Prijaji. Dari usaha Pram itulah pribadi ini diketahui dunia internasional dan ribuan lapisan masyarakat kita hari ini. Karena itu mengajukan namanya karena pribadi ini yang paling mudah diterima masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima alasan itulah kemudian mengukuhkan bahwa patok pers kebangsaan adalah Medan Prijaji dan Tirto Adhi Surjo menjadi pemancang patok itu. Dengan memancangkan patok ini paling tidak kita menarik dua hal: (1) memiliki protagonis atau tokoh idola yang diteladani baik di dunia pers maupun dalam pergerakan; (2) kita bisa menafsirkan sejarah Indonesia dalam perspektif yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengambil Tirto Adhi Soerjo sebagai model, maka polemik bahwa Indonesia dibangun oleh kalangan Jawa atau kalangan Islam itu bisa diselesaikan. Dan itu menjadi sumbangan berarti bagi pembelahan bangsa yang panjang ini, sebagaimana kita saksikan di sidang-sidang konstituante bagaimana pembelahan negera Islam dan negara nasionalis terjadi. Kalis melihat soal itu, kita pun terdorong ke sistem Demokrasi Terpimpin yang berakhir tragis pada peristiwa G 30 S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang selalu mengatakan bahwa gerakan yang pertama kali berlingkup nasional itu adalah Sarekat Islam. Yang lain mengatakan bahwa yang pertama adalah Boedi Oetomo yang berarti Jawa. Orang tak sadar bahwa kedua gerakan yang dipertentangkan itu lahir dan bermuara pada sumur yang sama, yakni Tirto Adhi Soerjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tujuan Tirto/Medan Prijaji adalah memerdekakan. Dia dengan jelas memberitahu konsepsi kebangsaan itu tidak dibangun berdasarkan atas suku dan agama, tapi gerakan intelektual, kesadaran bahasa, dan keyakinan bertanah air. Jadi jika dicari semua gerakan itu, terutama gerakan nasionalis dan gerakan Islam, bersumbu pada sumur yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUKU INI DITERBITKAN sebagai sebuah penghargaan atas kerja Tirto Adhi Soerjo yang mangkat dengan tragis pada 7 Desember 1918. Dikerjakan siang malam oleh sembilan sejarawan muda (partikelir) di bawah usia 25 tahun selama dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah perayaan tradisi pers Indonesia, buku ini menuliskan kembali 365 mini-biografi pers Indonesia. Bukan hanya cetak, tapi juga elektronik, bahkan tradisi pers di internet. Diriset dari pers yang terbit di hampir seluruh daerah, pelbagai bahasa (Indonesia, Jawa, Sunda, Belanda), dan seluruh kurun (1907-2007—bahkan sampai merentang lebih jauh pada 1744).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaligus buku ini menandai sebuah maklumat bahwa 7 Desember adalah tonggak Hari Pers Indonesia, tepat di hari ketika Tirto wafat di mana dalam sepanjang hidupnya sudah meneguhkan tugas dan posisi pers: bagaimana pers mesti berhadapan dengan kekuasaan, bagaimana pers mesti membangun perniagaan untuk bisa bertahan dan hidup sehat, serta bagaimana mestinya keberpihakan pers terhadap masyarakat lemah dalam membangun kritisisme dan sekaligus mendorong keswadayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PERS INDONESIA YANG DIRISET&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDAN PRIJAJI&lt;br /&gt;Koran Pertama Penyuluh Kebangsaan ~ 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATAVIASE NOUVELLES&lt;br /&gt;Yang Pertama yang Dibreidel ~ 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELOMPRET MELAJOE&lt;br /&gt;Terompet Bisnis Kaoem Pedagang ~ 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TJAHAJA SIJANG&lt;br /&gt;Dari Penginjil ke Sekuler Progresif ~ 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBRITA BETAWI&lt;br /&gt;Terbit di Ujung Abad ~ 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTJA BARAT&lt;br /&gt;Satire untuk Padang ~ 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINTANG BATAVIA&lt;br /&gt;Koran Putih untuk Rakyat Hindia Belanda ~ 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RETNODHOEMILAH&lt;br /&gt;Sepoetjoek Soerat Boeat Pembatja ~ 23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEWARTA BORNEO&lt;br /&gt;Internasionalisme Borneo ~ 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINTANG HINDIA&lt;br /&gt;Bangsa Osoelan dan Piekieran ~ 29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERNIAGAAN&lt;br /&gt;Berdagang Politik ~ 32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOENDA BERITA&lt;br /&gt;Dari Tjianjur Mengasah Ketajaman Pena ~ 35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINAR ATJEH&lt;br /&gt;Si Putih Manis dari Ujung Barat ~ 39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOELOEH KEADILAN&lt;br /&gt;Adik Kandung Mas Medan ~ 43&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TJAHAJA TIMOER&lt;br /&gt;Terbit di Antara Kaum Pembatik ~ 46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POETRI HINDIA&lt;br /&gt;Kekasih Cantik dan Alus Mas Medan ~ 49&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJAWI HISWARA&lt;br /&gt;Martodharsono dan Geger Surakarta ~ 53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANTJARAN WARTA&lt;br /&gt;Anak Hindia Soedah Berapi ~ 57&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEWARTA DELI&lt;br /&gt;Hulu Bagi Jurnalis-Jurnalis Tangguh ~ 60&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINPO&lt;br /&gt;The Bodyguard from Batavia ~ 63&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AL-MOENIR&lt;br /&gt;Saudara Mudanya al-Manar ~ 66&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDAN GOEROE HINDIA&lt;br /&gt;Hak Sekolah untuk Semua ~ 70&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OETOESAN MELAJOE&lt;br /&gt;Koran Utusan Kaum Adat ~ 73&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TJAJA HINDIA&lt;br /&gt;Nasionalisme Bangsa (Basa) Indonesia ~ 77&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DE EXPRES&lt;br /&gt;Ik ben Indisch, Ik ben Indonesier!!! ~ 80&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OETOESAN HINDIA&lt;br /&gt;Hidup Mati untuk Sarekat Islam ~ 83&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAROTOMO&lt;br /&gt;Koran Kritis Dituduh Rasis ~ 87&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOENTING MELAJOE&lt;br /&gt;Disini, Nama Roehana Koeddoes Terpahat ~ 91&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA HINDIA&lt;br /&gt;Berbagi Ilmu di Majalah ~ 94&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINTANG TIONGHOA&lt;br /&gt;Ada Sawo Matang di Koran Kuning ~ 97&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOENIA BERGERAK&lt;br /&gt;Koran Pamflet untuk Aktivis Berkepala Batu ~ 101&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POETRI MARDIKA&lt;br /&gt;Si Gadis Intelek Boedi Oetomo ~ 104&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELOMPRET HINDIA&lt;br /&gt;Tereaklah! ~ 107&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINTANG MATARAM&lt;br /&gt;Gelitik-Menggelitik di Pojok Halaman ~ 110&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDAN BOEDIMAN&lt;br /&gt;Pandai dan Terampil untuk Karaharjan Negeri ~ 114&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDAN MOESLIMIN&lt;br /&gt;Hidoep Kaoem Moeslimin Sedoenia ~ 117&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEARA MOEHAMMADIJAH&lt;br /&gt;Hampir Seabad Bernapas di Bawah Matahari ~ 120&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENIH MARDEKA&lt;br /&gt;Karena Critic itu Menghibur, Toean! ~ 124&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HINDIA MOEDA&lt;br /&gt;Visi Perubahan di Lampung ~ 127&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IEN PO&lt;br /&gt;Koran dengan Strategi Pemasaran Kreatif ~ 130&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NERATJA&lt;br /&gt;Didik Nasionalisme Lewat Jalan Pendidikan ~ 134&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINAR DJAWA&lt;br /&gt;Antara SI, Semaoen, dan Radikalisme Pers ~ 138&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BARGA WASTRA&lt;br /&gt;Ksatria Manggis dari Cirebon ~ 142&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JONG SUMATRA&lt;br /&gt;Tiada Bahasa, Hilanglah Bangsa ~ 145&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEREMPOEAN BERGERAK&lt;br /&gt;Dari Deli untuk Kesetaraan ~ 148&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSATOEAN HINDIA&lt;br /&gt;‘De Expres Jilid II ~ 152&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINAR PASOENDAN&lt;br /&gt;Duta Rakyat Pasundan untuk SI Semarang ~ 155&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERADJOE&lt;br /&gt;Mustika Negeri dari Hilir Musi ~ 158&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOEDI OETOMO&lt;br /&gt;Satrija Djawa Sedjati ~ 161&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KENG PO&lt;br /&gt;Mustika Negeri dari Hilir Musi ~ 164&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JONG JAVA&lt;br /&gt;Dari Jawa untuk Tanah Air ~ 168&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASA BAROE&lt;br /&gt;Ratu Adil dari Bandoeng ~ 172&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMIMPIN&lt;br /&gt;Jurnalisme Berkelahi yang Berakhir di Bui ~ 175&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENIH PENGETAHOEAN&lt;br /&gt;Dari Kabar Pertukangan Hingga Pergerakan ~ 178&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOENIA BAROE&lt;br /&gt;Konang-konang dalam Benderang Kapitaal ~ 181&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MATAHARI&lt;br /&gt;Berkobar-kobar Mendjilat ka Kiri ~ 185&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBERITA INDIA&lt;br /&gt;Pengingat yang Diabaikan ~ 188&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSATOEAN&lt;br /&gt;Nasionalisme Turki untuk Penduduk Hindia ~ 191&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANDERA ISLAM&lt;br /&gt;Patok-patok Merukunkan Islam ~ 194&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FADJAR ASIA&lt;br /&gt;Lebih Dekat dengan Tojkro, Salim, dan Wirjo ~ 197&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HALILINTAR&lt;br /&gt;Pontianak Diguntjang ‘Petir’ ~ 201&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMADJOEAN HINDIA&lt;br /&gt;Lahir Setelah Oetoesan Hindia Wassalam ~ 204&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OETEOSAN RA’IAT&lt;br /&gt;Dari Dakwah Mimbar ke Dakwah Koran ~ 208&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAHLAWAN&lt;br /&gt;Juru Damai, Redakan Tikai ~ 211&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RA’JAT BERGERAK&lt;br /&gt;Misbach Ditangkap dan Medja Redactie Tergontjang!!! ~215&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SARASO SAMALOE&lt;br /&gt;Satu Rasa Minang-Pariaman ~ 218&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIN JIT PO&lt;br /&gt;Di Sini si Fjamboek Berduri Pernah Jadi Redacteur ~ 221&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIPATAHOENAN&lt;br /&gt;Nasionalisme Dari Paguyuban Sunda ~ 224&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WARTA TIMOER&lt;br /&gt;“Spion” Pembela Kaum Lemah ~ 227&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINTANG BORNEO&lt;br /&gt;Manisfest Nasionalisten op Borneo ~ 230&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOEMIPOETERA&lt;br /&gt;Sang Penakluk Malaise ~ 233&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDONESIA MERDEKA&lt;br /&gt;Seruan Merdeka dari Perhimpunan Indonesia ~ 236&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAOEM KITA&lt;br /&gt;PKI Menipu Sarekat Islam ~ 240&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELITA ANDALAS&lt;br /&gt;Cahaya Terang Tionghoa-Bumiputera ~ 243&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEARA HINDIA&lt;br /&gt;Dari Dagang hingga Perempuan ~ 246&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERANI&lt;br /&gt;Barang Siapa Jang Bentji Pada Kita ialah Moesoeh Kita! ~ 249&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CHABAR MINGGOEAN&lt;br /&gt;Ada yang Menggigit di Feuileton ~ 252&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJAWA TENGAH REVIEW&lt;br /&gt;Jurnal Berita yang Tak Bias dan Biasa ~ 255&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOENIA BAROE&lt;br /&gt;Semesta Tionghoa untuk Indonesia ~ 258&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FIKIRAN&lt;br /&gt;Penyambung Lidah Rakyat Minahasa ~ 261&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HINDIA BAROE&lt;br /&gt;Iklan Menjepit Haji Agus Salim ~ 264&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NJALA&lt;br /&gt;Ra’jat Mengadoe Didjawab dengan Kelewang ~ 267&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJOELOEH&lt;br /&gt;Memojokkan Polisi Kolonial Dapat Teguran Bestuur ~ 270&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSATOEAN RA’JAT&lt;br /&gt;Kaoem Miskin dari Segala Bangsa dan Agama Bersatoelah ~ 273&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SWARA PUBLIEK&lt;br /&gt;“Doesta” yang Bilang Pers Peranakan Ta’ Nasionalist ~ 276&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO&lt;br /&gt;Sebarisan Penganjur Dari Koran Jogja ~ 280&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TJAHJA PALEMBANG&lt;br /&gt;Menerangi Kebusukan ~ 284&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINTANG TIMOER&lt;br /&gt;Yang Membujur lalu yang Melintang Patah ~ 287&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAN PO&lt;br /&gt;Jadikanlah Kami Indonesiamu Juga ~ 290&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBERITA&lt;br /&gt;Berayun Bersama Perlawanan Merah ‘26 ~ 294&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSAUDARA’AN&lt;br /&gt;Pemantik Semangat Kemajuan Rakyat ~ 297&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTJA SELATAN&lt;br /&gt;Bangoenlah Wong Palembang! ~ 300&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINAR BORNEO&lt;br /&gt;Jurnalisme Scolastik dari Pontianak ~ 303&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINAR INDONESIA&lt;br /&gt;Hakim Bagi Musuh Kaum Proletar ~ 306&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEARA BORNEO&lt;br /&gt;Kabar dari Negeri Mandau ~ 309&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEARA MOERID&lt;br /&gt;Penegak Surau di Padang Pandjang ~ 312&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEARA TAMAN SISWA&lt;br /&gt;Pejuang Pendidikan Bangsa Indonesia ~ 315&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOELING HINDIA&lt;br /&gt;Mengaloen Oentoek Indonesia Raja ~ 318&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOELOEH INDONESIA&lt;br /&gt;Jurnal Politik Kaum Cerdik Cendekia ~ 321&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TJAHAJA DJOMBANG&lt;br /&gt;Setitik Api dari Djombang ~ 325&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOEMI MELAJOE&lt;br /&gt;Dari Selatan Pulau Perca Mengeja Indonesia ~ 328&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MIMBAR CELEBES&lt;br /&gt;Pergerakan dan Kritik Budaya ~ 331&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MATAHARI INDONESIA&lt;br /&gt;Iwa Pun Dikurung di Belakang Matahari ~ 334&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELITA BANGKA&lt;br /&gt;Surat Kabar Pertama di Bangka ~ 338&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSATOEAN INDONESIA&lt;br /&gt;Pekik Nasionalisme Soekarno ~ 341&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEWARTA MADIOEN&lt;br /&gt;Dulu Sekedar Reclame Sekarang Moweat Segala Brita ~ 344&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEARA KITA&lt;br /&gt;Banggalah Berbahasa Indonesia ~ 347&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISTERI&lt;br /&gt;Utusan Perikatan Perempoean Indonesia ~ 351&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISTRI MERDIKA&lt;br /&gt;Memori Masa Lalu dan Cermin Kini ~ 354&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEWARTA MENADO&lt;br /&gt;Seruan dari Utara Celebes ~ 357&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIN TIT PO&lt;br /&gt;Persemaian Jiwa Indonesia ~ 360&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINAR DELI&lt;br /&gt;Dalam Arus Besar Pergerakan ~ 363&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINAR LAOETAN&lt;br /&gt;Jalan Belakang Menuju Kebebasan ~ 366&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEARA TIMOER&lt;br /&gt;Berjuang untuk Ibu Timur ~ 369&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FADJAR INDONESIA&lt;br /&gt;Reportase Perbudakan Kolonial di Mandar ~ 372&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERGERAKAN&lt;br /&gt;Pembela Peranakan di Belakang Tembok ~ 375&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEDAR&lt;br /&gt;Penentang Keras Poligami ~ 378&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDONESIA MOEDA&lt;br /&gt;Yang Muda, yang Berkarya ~ 382&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEARA KAOEM&lt;br /&gt;Agoes Salim dan Persatuan Kaum Muda ~ 385&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RA’JAT&lt;br /&gt;Si Pedagog dari Madura ~ 388&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BARISAN KITA&lt;br /&gt;Di Mangkasar Matahari Molai Bertjahaja ~ 391&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAULAT RA’JAT&lt;br /&gt;Mengembalikan Pergerakan ke Jalur Pemikiran ~ 394&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LENTERA&lt;br /&gt;Kaoem Iboe Wadjib Tempoer ~ 398&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKSI&lt;br /&gt;Apa Tuan Seorang Nasionalist ~ 401&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDAN RA’JAT&lt;br /&gt;Koran Islam Semua Paham ~ 405&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OETOESAN INDONESIA&lt;br /&gt;Dari Kiri ke Nasionalis ~ 408&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEARA MERDEKA&lt;br /&gt;Ketika Gerakan Pemuda dan Pemudi Sama Pentingnya ~ 412&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEARA OEMOEM&lt;br /&gt;Dari ‘Studie Club’ ke ‘Parindra’ ~ 416&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOELOEH KAOEM MOEDA&lt;br /&gt;Sajian Untuk Kaum yang Dilarang Berhutang ~ 419&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURYA&lt;br /&gt;Sekutu Soekarno dari Andalas ~ 422&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;API RA’JAT&lt;br /&gt;Api juang berkubar-kubar dalam Tungku ~ 425&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASIA BAROE&lt;br /&gt;Naga di Bumi Pasundan ~ 428&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANTENG&lt;br /&gt;Jago Tarung dari Partindo ~ 431&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FIKIRAN RA’JAT&lt;br /&gt;Kaoem Marhaen, Inilah Madjalah Kamoe! ~ 434&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENJALA&lt;br /&gt;Organ PNI Sembunyi Tangan ~ 437&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENDJATA RA’JAT&lt;br /&gt;Penyokong Pergerakan yang Radikal ~ 440&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADIL&lt;br /&gt;Menuntun Umat, Mengawal Lahirnya Reformasi ~ 443&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJEBAR SEMANGAT&lt;br /&gt;Untuk Bangsa Kita Kaum Kromo ~ 447&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMANDANGAN&lt;br /&gt;Mozaik Nasionalist Indonesia ~ 450&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POEDJANGGA BAROE&lt;br /&gt;Pandu Kebudayaan Indonesia ~ 454&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WARTA KEMADJOEAN&lt;br /&gt;Figur Pembebasan bagi Rakyat ~ 457&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINAHASSA POST&lt;br /&gt;Bukan (Lagi) Kroni Kolonial ~ 460&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OETOESAN&lt;br /&gt;Figur Pembebasan bagi Rakyat ~ 463&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINAR SUMATRA&lt;br /&gt;Ketika Melayu Ingin Modern ~ 466&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOELAWESI&lt;br /&gt;Nyemprot, tapi bukan Propaganda ~ 469&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TABOEH&lt;br /&gt;Nasionalisme dari Negeri Asing ~ 472&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISTERI INDONESIA&lt;br /&gt;Kami Hanya Perkumpulan Sosial ~ 475&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJEDAR&lt;br /&gt;Penyadar di Kala Tak Sadar ~ 478&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEARA PARINDRA&lt;br /&gt;Gaung Bergabung Menuju Persatuan ~ 481&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TJAJA BOGOR&lt;br /&gt;“Obat Kuat” Buat Bogor ~ 484&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NATIONALE COMMENTAREN&lt;br /&gt;Trengginasnya Orang Manado! ~ 487&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENOENTOEN PIKIRAN&lt;br /&gt;Memperjuangkan Borneo ~ 490&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEWARTA OEMOEM&lt;br /&gt;Mengenalkan Pemimpin dan Bangsa Lewat Pidato ~ 493&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPAKAT&lt;br /&gt;Penjajahan, Perang, dan Kesadaran ~ 496&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEROEAN&lt;br /&gt;Gorontalo Minta Diperhatikan ~ 499&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINAR BAROE&lt;br /&gt;Juru Bicara Saudara Tua ~ 502&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJAWA BAROE&lt;br /&gt;Kumpulkanlah Biji Jarak ~ 505&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PESAT&lt;br /&gt;Santun Dalam Kata, Bijak Dalam Berita ~ 509&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPOEBLIK&lt;br /&gt;Suplemen Nasionalisme dalam Berita Perang ~ 512&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERITA INDONESIA&lt;br /&gt;Koran Propaganda Kemerdekaan ~ 515&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINTANG MERAH&lt;br /&gt;Dengan Jurnal Kembali ke Atas Panggung ~ 518&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJAJABAJA&lt;br /&gt;Mulut Jawa Prabu Karno ~ 521&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDAULATAN RAKJAT&lt;br /&gt;Saksi Jatuh Bangunnya Pemerintahan Indonesia ~ 524&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MERAH POETIH&lt;br /&gt;Pentingnya Uang Bagi Negara Merdeka ~ 528&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RRI&lt;br /&gt;Sekali di Udara, Tetap di Udara ~ 531&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MERDEKA&lt;br /&gt;Barisan Pembela Soekarnoisme yang Dihempas Soekarno ~ 534&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIDUP&lt;br /&gt;Dari Katolik untuk Indonesia ~ 537&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANDJI RA’JAT&lt;br /&gt;Koran Gratis untuk Indonesia ~ 541&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBANGOEN&lt;br /&gt;Njalakan Api Persaoedaraan Bangsa-Bangsa ~ 544&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUARA MASJARAKAT&lt;br /&gt;Penerang dari Malang ~ 547&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOEARA MERDEKA&lt;br /&gt;Siapa Pengkhianat, Siapa Pembela Revolusi ~ 550&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOELOEH MERDEKA&lt;br /&gt;Seiya Sekata, Sahabat Sejati Republiken ~ 553&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAKTI&lt;br /&gt;Ksatria Baret dalam Berita ~ 556&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERNAS&lt;br /&gt;Koran untuk Kota Pendidikan ~ 559&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GELOMBANG ZAMAN&lt;br /&gt;Penggiring Badai Revolusi ~ 562&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GELORA RAKJAT&lt;br /&gt;Nasionalisme dalam Lembaran Koran ~ 566&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GEMA MASSA&lt;br /&gt;Kesetiaan yang Pahit ~ 569&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASJARAKAT BAROE&lt;br /&gt;Geliat Damai Staat van Beleg ~ 572&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NUSANTARA&lt;br /&gt;“Harian Got dan Fasis” ~ 575&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELITA RAKJAT&lt;br /&gt;Suratkabar Berhaluan Nasionalis ~ 578&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINTANG INDONESIA&lt;br /&gt;Lentur Mewartakan Perekonomian ~ 581&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MIMBAR UMUM&lt;br /&gt;Koran Medan, Berita Jakarta ~ 584&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PAGI&lt;br /&gt;Dua Jilid Perlawanan Seniman Malioboro ~ 587&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEDOMAN RAKJAT&lt;br /&gt;Penghadang Jalan Kudeta ~ 590&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENABOER&lt;br /&gt;Dari Jakarta Menabur Kasih ~ 593&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENINDJAU&lt;br /&gt;Kecak-kecak Warna Politik ~ 596&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENOENTOEN PERDJOEANGAN&lt;br /&gt;Dari Bukitinggi Menyusun Strategi ~ 599&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIASAT&lt;br /&gt;“Jalan Puisi” dalam (Berita) Politik Indonesia ~ 603&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TROMPET MASJARAKAT&lt;br /&gt;Tiada Hari Tanpa Meja Hijau ~ 607&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTOE&lt;br /&gt;Enak Dibaca dan Penting ~ 610&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WARTA EKONOMI&lt;br /&gt;Mencari Format Ekonomi yang Berkeindonesiaan ~ 613&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WASPADA&lt;br /&gt;Di Bawah Bayang-Bayang ‘Sang Godfather’ ~ 616&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GEMA SUASANA&lt;br /&gt;Eksodus Sastra Kritik ~ 619&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESATUAN INDONESIA&lt;br /&gt;Sadar Satu Sebangsa ~ 622&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIKMAH&lt;br /&gt;Karena Komunis Harus Ditendang! ~ 625&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MESTIKA&lt;br /&gt;Media Intrik Nir Partai ~ 629&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEDOMAN&lt;br /&gt;Presiden Soeharto: “Pedoman...Pateni wae...” ~ 632&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERDAMAIAN&lt;br /&gt;‘Proces Sedjarah’ Sebagai Tonggak Ingatan ~ 635&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP&lt;br /&gt;Diplomasi Kuat Bangsa Berdaulat ~ 639&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUARA INDONESIA&lt;br /&gt;Keseimbangan Informasi dan Hiburan ~ 642&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER&lt;br /&gt;Kesatuan Indonesia Sebagai Harga Mati ~ 645&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WARTA INDONESIA&lt;br /&gt;Keteguhan dalam Pergolakan ~ 648&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABAD BARU&lt;br /&gt;‘Pudjangga Baru’ van Medan ~ 652&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DUNIA EKONOMI&lt;br /&gt;Menyapa Kaum Papa Lewat Media ~ 655&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARIAN UMUM&lt;br /&gt;‘Pak Pentol’ dan Benteng Kewarasan ~ 659&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDONESIA RAYA&lt;br /&gt;Berkali-kali Dibredel Baru Mati ~ 662&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJAWA POST&lt;br /&gt;Sebuah Anomali Pers Melayu Tionghoa ~ 666&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEKAR&lt;br /&gt;Tetap Setia pada Bu Fat ~ 670&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUNDAY COURIER&lt;br /&gt;Rupa-Rupa Politik di Hari Minggu ~ 673&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANAH AIR&lt;br /&gt;Mengabdi dengan Setia Kepada Tanah Air ~ 676&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABADI&lt;br /&gt;Hidupnya tak Seabadi Namanya ~ 679&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGHARAPAN&lt;br /&gt;Hikayat Sepotong Kisah Korupsi ~ 683&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RAKJAT BERDJOANG&lt;br /&gt;Daerah Berontak, Siapa Dalang? ~ 686&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUARA MERDEKA&lt;br /&gt;Koran Daerah Bernapas Nasional ~ 689&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTUSAN INDONESIA&lt;br /&gt;Tahu Menghargai Pahlawan ~ 692&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BASIS&lt;br /&gt;Jurnalisme Seribu Mata ~ 695&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARIAN RAKJAT&lt;br /&gt;Di Bawah Pukulan dan Sabetan Palu Arit ~ 699&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IPPHOS&lt;br /&gt;Sejarah dalam Selembar Foto ~ 703&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS&lt;br /&gt;Nugroho Notosusanto Berhasrat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperdalam Keinsafan ~ 706&lt;br /&gt;MARHAEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Penyambung Lidah Karno di Makassar ~ 709&lt;br /&gt;MINGGUAN HARAPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedil Berpeluru Civic Mission ~ 712&lt;br /&gt;PEMUDA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Mesti Mesti Menyembah Pada Angkatan Tua ~ 715&lt;br /&gt;PUTERA SAMUDERA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Penjaga Laut ~ 718&lt;br /&gt;STAR WEEKLY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Satu Putaran Jalan Hidup PK Ojong ~ 721&lt;br /&gt;TEGAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah Rencong Menuntut “Kemerdekaan Kolonial” ~ 724&lt;br /&gt;MIMBAR INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secangkir Kopi dan Berita Hangat di Sore Hari ~ 727&lt;br /&gt;OLAHRAGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengabar Krida Negara ~ 730&lt;br /&gt;INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Idrus Hingga Armijn Pane ~ 733&lt;br /&gt;SULUH INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Buku Belajar Memahami Soekarnoisme ~ 736&lt;br /&gt;SURABAYA POST&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbit Sore dengan Jurnalisme Putih ~ 739&lt;br /&gt;DUTA MASJARAKAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang Sembilan di Tengah Prahara’ 59 ~ 742&lt;br /&gt;WARTA BANDUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Belok Kiri ~ 745&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGUAN SADAR&lt;br /&gt;Media Hiburan Melek Politik ~ 748&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROKLAMASI&lt;br /&gt;Soekarno Kawin Lagi ~ 751&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIK&lt;br /&gt;Djelek-djelek Tetap Djakarta Kite ~ 754&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUSINESS NEWS&lt;br /&gt;Setia Memediasi Kebijakan Ekomomi ~ 757&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SI KUNTJUNG&lt;br /&gt;Legenda Majalah Anak ~ 760&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IBU&lt;br /&gt;Bukan “Perempuan”, Tapi “Wanita” ~ 763&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELOPOR&lt;br /&gt;Kabar Buruk Buat Bung Karno ~ 766&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIK&lt;br /&gt;Res Publica di Kota Atlas ~ 769&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SKETSMASA&lt;br /&gt;Dengan Berita Mencerdaskan Bangsa ~ 772&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POS INDONESIA&lt;br /&gt;Banyak Cara Berkelit dari Jeratan Delict ~ 775&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELECTA&lt;br /&gt;Diberangus Hanya Karena Mengatai Soeharto Bukan Anak Petani ~ 778&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WARTA&lt;br /&gt;Ibu Maju, Bangsa Maju ~ 782&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANDJI MASYARAKAT&lt;br /&gt;Penyambung Lidah Tradisi Islam Reformis ~ 785&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DUTA PANTJASILA&lt;br /&gt;Algojo Pengikis Separatis ~ 788&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SASTRA&lt;br /&gt;Kiri Kanan Jadi Lawan ~ 791&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINAR HARAPAN&lt;br /&gt;Harga Sebuah Keberanian ~ 794&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TVRI&lt;br /&gt;Si Pionir yang Terengah di Pasar Siar ~ 797&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHTERA AMPERA&lt;br /&gt;Di Laut (Kapan) Kita Jaya ~ 800&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDEPENDENT TJENDRAWASIH&lt;br /&gt;Menulis Irian Barat dari Jakarta ~ 803&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTISARI&lt;br /&gt;Yang ‘Seksi’ yang ‘Berdisi’ ~ 806&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANGKATAN BERSENDJATA&lt;br /&gt;Di Bawah Lindungan Para Jendral ~ 809&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BALI POST&lt;br /&gt;Dari “Pengemban Pancasila” hingga “Matahari dari Bali” ~ 812&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERDIKARI&lt;br /&gt;Di Tengah Kurun Pembersihan PKI ~ 815&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERITA YUDHA&lt;br /&gt;Lolos Dari Surat Keputusan ~ 818&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DWIKORA&lt;br /&gt;Gagal Memediasi Bung Karno dan Rakyat ~ 821&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS&lt;br /&gt;Jurnalisme Anggun Dari Palmerah ~ 824&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NUSA PUTERA&lt;br /&gt;Yang Selamat dari Badai ~ 828&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WARTA BERITA ANTARA&lt;br /&gt;Lumbung Informasi, Terbit Pagi-Sore ~ 831&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;API ISLAM&lt;br /&gt;Berwajah Islam, Berotak Pancasila ~ 835&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GALA&lt;br /&gt;Jitu Mengail Pengiklan ~ 838&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARIAN KAMI&lt;br /&gt;Amarah dari Sebuah Angkatan ~ 841&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HORISON&lt;br /&gt;Di tengah Sengkarut Langit Sastra Indonesia ~ 844&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARTIKA&lt;br /&gt;Pasukan Pengawal Orde Baru di Jawa Tengah ~ 847&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASA KINI&lt;br /&gt;Di Kota Pelajar Membangun dan Mendidik ~ 850&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MERTJU SUAR&lt;br /&gt;Matahari Pagi di Jogjakarta ~ 853&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELOPOR BARU&lt;br /&gt;Requiem Senja di Koran Sore ~ 856&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PIKIRAN RAKYAT&lt;br /&gt;Raja Koran di Tatar Pasundan ~ 859&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELOPOR JOGJA&lt;br /&gt;Dua Era Membela Pancasila ~ 862&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NUSA TENGGARA&lt;br /&gt;Melihat Nusa Dari Cara Pandang Tenggara ~ 865&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKTUIL&lt;br /&gt;Yang Kreatif yang Laris ~ 868&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPINI INDONESIA&lt;br /&gt;Tukang Minyak Jualan Koran ~ 871&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D&amp;R&lt;br /&gt;Ada Detektif di Pers ~ 874&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ELSHINTA&lt;br /&gt;“News and Talk” 24 jam Non Stop ~ 877&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REVOLUSIONER&lt;br /&gt;Jangan Main-main dengan Baju Loreng ~ 880&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINGGALANG&lt;br /&gt;‘Jurus 4 Pendekar’ ~ 883&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EKSPRES&lt;br /&gt;Yang Kritis yang Dilindas ~ 886&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRUBUS&lt;br /&gt;Membangun Indonesia Berswadaya ~ 889&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDIA INDONESIA&lt;br /&gt;Koran dengan Editorial yang “Galak” ~ 892&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MIMBAR MASYARAKAT&lt;br /&gt;Saksi Bisu Matinya Pers Indonesia ~ 895&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POS KOTA&lt;br /&gt;Bertarung dalam Isu-isu Urban ~ 898&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINAR INDONESIA BARU&lt;br /&gt;Ramuan Sang Tabib ~ 901&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KENDARI POS&lt;br /&gt;Awalnya Koran Beringin ~ 905&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANJARMASIN POST&lt;br /&gt;Membelah Arus Kapuas ~ 908&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERITA BUANA&lt;br /&gt;Memulai Hari di Siang Bolong ~ 911&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NYATA&lt;br /&gt;Lebih dari Sekadar Hiburan bagi Wanita ~ 915&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRISMA&lt;br /&gt;Rumah Kelahiran Cendekiawan Eksos ~ 918&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUARA KARYA&lt;br /&gt;Bunyi Bising dari Balik Beringin ~ 921&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMPO&lt;br /&gt;Dari Berita ke Cerita ~ 924&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FEMINA&lt;br /&gt;Ratu Majalah Wanita Indonesia ~ 929&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARTINI&lt;br /&gt;Pernah Seatap dengan Madonna ~ 932&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MONITOR&lt;br /&gt;Arswendo dan Sang Nabi di Tabloid Iher ~ 935&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPIK&lt;br /&gt;Kalem dalam Tutur Kata, Objektif dalam Berita ~ 938&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAN&lt;br /&gt;Membangun Manusia Pembangun ~ 941&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARIAN DUTA&lt;br /&gt;Corong Orba di Pucuk Rencong ~ 944&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPUNG POST&lt;br /&gt;Lampung, Pers, dan Kepercayaan ~ 947&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELITA&lt;br /&gt;Bintang yang Berkali-kali Terbentur Dinding ~ 951&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA JAKARTA&lt;br /&gt;Jurnalisme Sastra Fotografi ~ 954&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAJAR&lt;br /&gt;Menjadi Matahari di Kota Angin Mamiri ~ 957&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAWA POS&lt;br /&gt;Menanam Radar di Setiap Kota ~ 960&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SARINAH&lt;br /&gt;Pesona yang Tak Lekang ~ 963&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THE JAKARTA POS&lt;br /&gt;Dipersembahkan untuk Pembaca (Berbahasa) Asing ~ 966&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOLA&lt;br /&gt;Nasionalisme di Lapangan Hijau ~ 969&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BISNIS INDONESIA&lt;br /&gt;Dari Bekas Bengkes Hingga Wisma ~ 972&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABILI&lt;br /&gt;Mujahid Tahan Kritik ~ 975&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAMBI INDEPENDENT&lt;br /&gt;Dari Satu Kantor ke Kantor Lainnya ~ 978&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INFO KOMPUTER&lt;br /&gt;Swalayan Maya di Musim Digital ~ 981&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PONTIANAK POST&lt;br /&gt;Tonggak dan Tombak Rakyat Kalimantan Barat ~ 984&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRIORITAS&lt;br /&gt;Mati Dini Si Bayi Ajaib Dari Gondangdia ~ 987&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARIAN SURYA&lt;br /&gt;Kala Seniman Berebut Surat Keputusan Penguasa ~ 990&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAWASAN&lt;br /&gt;Koran Sore dengan Gaya Blak-blakan ~ 993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EDITOR&lt;br /&gt;Membangun Indonesia dengan Kritik ~ 996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANADO POST&lt;br /&gt;Lahir dari “Baku Belante” ~ 1000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SRIWIJAYA POST&lt;br /&gt;Untuk Wong Kito di Bumi Sriwijaya ~ 1003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RCTI&lt;br /&gt;Televisi Pertama Swasta Indonesia ~ 1007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUARA PEMBARUAN&lt;br /&gt;Sepotong Hikayat si Pemain Pengganti ~ 1010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALTIM POST&lt;br /&gt;Dari Oost Borneo untuk Indonesia Timur ~ 1013&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NOVA&lt;br /&gt;Inspirasi Wanita Indonesia ~ 1016&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SERAMBI INDONESIA&lt;br /&gt;Bertahan dari Pelbagai Hempasan ~ 1019&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WARTA EKONOMI&lt;br /&gt;Memikat dan Mengikat dengan Peringkat ~ 1023&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YOGYA POST&lt;br /&gt;Yogya dan Kopi Sore Ala Emha ~ 1027&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FORUM KEADILAN&lt;br /&gt;Membincangkan Delik dan Perkara ~ 1030&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ULUMUL QUR’AN&lt;br /&gt;Cendekiawan Muslim Menjawab Tantangan Zaman ~ 1033&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RIAU POS&lt;br /&gt;Mengembalikan Kejayaan Raja Ali Haji ~ 1037&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRIJAYA&lt;br /&gt;Mengudara Lebih Dari Sekadar Musik ~ 1040&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POS KUPANG&lt;br /&gt;Oase di Padang Gersang ~ 1043&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANTV&lt;br /&gt;Lima Jam Lalu Jadi Bintang ~ 1046&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DETIK&lt;br /&gt;Kami Akan Tetap Berpikir Merdeka ~ 1049&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CENDRAWASIH POS&lt;br /&gt;Obor di Rimba Gelap Papua ~ 1052&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALTENG POS&lt;br /&gt;Di Antara Rimba dan Sungai ~ 1055&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPUBLIKA&lt;br /&gt;Harian Islam Generasi Ketiga ~ 1058&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GATRA&lt;br /&gt;Lahir dari Geger Breidel ~ 1061&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALAM&lt;br /&gt;Menolak Keseragaman Kebudayaan ~ 1064&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SCTV&lt;br /&gt;(Dari) Satu untuk Semua ~ 1068&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDOSIAR&lt;br /&gt;Awalnya Menjanjikan ~ 1072&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSPEKTIF&lt;br /&gt;Masa Depan Blog Pada Isinya ~ 1075&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAN&lt;br /&gt;Menyuarakan Kemandirian ~ 1078&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JURNAL PEREMPUAN&lt;br /&gt;Dari Jurnal ke LSM Profesional ~ 1081&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOLOPOS&lt;br /&gt;Koran Muda di Kuburan Pers ~ 1085&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALANG POST&lt;br /&gt;Ikon di Kandang “Singo Edan” ~ 1088&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DETIK.COM&lt;br /&gt;Karena Waktu Jantung Informasi ~ 1091&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CEK &amp; RICEK&lt;br /&gt;Baca Gosip atau Fakta ~ 1094&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AMBON EKSPRES&lt;br /&gt;Untuk yang Mencintai dan Menjaga Ambon ~ 1097&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FLORES POS&lt;br /&gt;Bertahan tanpa Naungan Konglomerasi ~ 1100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADANG EKSPRES&lt;br /&gt;Membangun Pers Lokal ~ 1103&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KBR 68H&lt;br /&gt;Mengudara dari Sabang sampai Merauke ~ 1106&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANTAU&lt;br /&gt;Empat Format dan Sembilan Elemen Jurnalisme ~ 1110&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RAKYAT MERDEKA&lt;br /&gt;Kembalinya “Jurnalisme Mimbar” ~ 1113&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METRO TV&lt;br /&gt;Barometer Berita Tanpa Jeda ~ 1116&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GAUNG NTB&lt;br /&gt;Maju Terus Berkata Benar ~ 1120&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPU MERAH&lt;br /&gt;Dari Judul Ketahuan Isi ~ 1123&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRANS TV&lt;br /&gt;Ini Tentang Televisi dan Bakso ~ 1126&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KORAN TEMPO&lt;br /&gt;Pelopor Trend Baru Koran Kompak ~ 1129&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ATVLI&lt;br /&gt;Dari Aceh Sampai Papua Berjajar Layar Kaca ~ 1132&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PULSA&lt;br /&gt;Lembar Ragam Telepon Genggam ~ 1136&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOPSKOR&lt;br /&gt;Mengolah Raga Sepanjang Kala ~ 1139&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPUTAR INDONESIA&lt;br /&gt;Datang Pagi Datang Sore ~ 1142&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANYINGKUL&lt;br /&gt;Jurnalisme Warga dari Makassar ~ 1145&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JURNAL NASIONAL&lt;br /&gt;Mediasi Publik-Republik ~ 1148&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERTARIK? HUB NO. 08886854721 (MBAK NURUL HIDAYAH) atau email: iboekoe@gmail.com. RABAT ANTARA 20 % - 30% SETIAP PEMBELIAN. BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM (DILUAR JOGJA&amp;JAWA)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6035754299018148413-5492810724044187253?l=bukubaru-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/feeds/5492810724044187253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6035754299018148413&amp;postID=5492810724044187253' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/5492810724044187253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/5492810724044187253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/2009/04/seabad-pers-kebangsaan-bahasa-bangsa.html' title='Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanah Air Bahasa'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Seok6x7CWLI/AAAAAAAAAV8/0sx94FxC8B4/s72-c/Seabad+Pers+Kebangsaan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6035754299018148413.post-8398376559570251055</id><published>2008-09-19T06:00:00.002-07:00</published><updated>2008-09-21T19:59:43.334-07:00</updated><title type='text'>7 Ibu Bangsa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SNO4e0dgP-I/AAAAAAAAAOg/cnaMl2CKbdk/s1600-h/Ibu+Bangsat+HC.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SNO4e0dgP-I/AAAAAAAAAOg/cnaMl2CKbdk/s320/Ibu+Bangsat+HC.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247740830434738146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Andri Rahman Ali, Galih Priatmodjo, Hajar Nur Setyowati, Hilman, I Kleruk Mau, Oryza Aditama, Petrik Metanasi, Reni Nuryanti&lt;br /&gt;Penerbit: RahZenBook (2008)&lt;br /&gt;Tebal: 532 halaman&lt;br /&gt;Harga: Rp 150.000&lt;br /&gt;NOTE: Hanya edisi terbatas HARDCOVER dan dilayani jika ada pesanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini berusaha menggambarkan tujuh tokoh wanita dalam sejarah Indonesia. Mereka memiliki keunikannya masing-masing. Cut Nyak Dien tercitra sebagai wanita pemberani dari Aceh yang begitu gigih memerangi militer Hindia Belanda yang berusaha menegakan kolonialisme dan imperialisme modern di tanah Aceh. Meski perlawanannya tertindas, perlawanan heroik Cut Nyak Dien layak menjadi teladan bagi kaum wanita. Seperti prinsip pemberontak Sein Fein di Irlandia, “berjuang dan kalah lebih baik daripada tidak berjuang sama sekali.”&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cut Nyak Dien memang bukan satu-satunya wanita yang ikut berperang melawan Imperialisme dan Kolonialisme Hindia Belanda. Sulawesi Selatan punya Besse Kajuara, Maluku punya Martha Christina Tiahahu, Jawa juga punya Nyi Ageng Serang. Berperang bukan hal mudah. Terlibat dalam peperangan berarti harus menderita. Dalam sejarah, derita peperangan bukan saja didera kaum lelaki, tapi juga wanita. Menghadapi hal semacam itu memang membutuhkan kekuatan. Ini bukti bahwa wanita tidak lemah. Dibalik kelemahannya itu, mereka menyimpan kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cut Nyak Dien mewakili wanita Aceh, maupun seluruh bangsa Indonesia, dalam berperang. Cut Nyak Dien menerapkan tak-tik gerilya terhadap militer Hindia Belanda yang terlatih baik. Tak-tik gerilya Cut Nyak Dien lalu diadaptasi oleh pejuang kemerdekaan RI selama Perang Kemerdekaan, meski tidak sempurna, seperti kata Jenderal Besar Indonesia Abdul Haris Nasution. Sebut saja ia ibu gerilya Indonesia yang berperang sampai tenaga terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini bukan nama asing bagi wanita Indonesia. Anak SD pun kenal Kartini sebagai  pendekarnya kaum wanita Indonesia. Tulisannya dalam Door Duisternis Tot Licht—yang di-Indonesiakan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang—mengandung semangat kebangkitan kaum wanita yang menggugah kaum intelektual humanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua terlahir dari pengalaman Kartini sebagai wanita priyayi yang penuh kekangan. Kartini merasa hidup dalam sangkar emas. Kartini menghendaki kesempatan sama dalam hal mengakses pendidikan yang layak, seperti apa yang diperoleh Kartono—seorang kakak kandung yang begitu mengertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kondisi yang menyiksanya Kartini hanya bisa menulis surat yang kemudian mengugah banyak orang. Kondisi tidak langsung berubah tentunya. Perubahan memang butuh waktu. Bagaimanapun, apa yang ditulis Kartini mampu mempengaruhi pikiran banyak orang hingga orang-orang yang terpengaruh itu bergerak dan tanpa sadar apa yang suarakan Kartini terjuangkan juga. Perlahan apa yang dialami Kartini nyaris tidak lagi dialami oleh wanita-wanita zaman sekarang. Ia adalah ibu penulis Indonesia. Yang mengkonsolidasikan perlawanan individu dan refleksi kemerdekaan dan emansipasi lewat tradisi epistolari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roehana Koeddoes tidak lain adalah kakak tiri Syahrir. Wanita ini mampu belajar autodidak. Roehana pada akhirnya mampu menjadi jurnalis sekaligus pendidik. Tulisannya cukup dikenal dan berpengaruh. Koleganya, termasuk suaminya yang jurnalis juga begitu mendukungnya untuk terus menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang dibangun Roehana juga terbilang maju. Barang kerajinan yang dihasilkan sekolahnya juga diminati di pasaran. Dengan sekolah ini juga Roehana telah memajukan kaum wanita. Dimana Roehana berusaha agar para wanita ‘melek huruf’. Hasilnya, wanita yang ikut dalam sekolah itu mampu membaca dan menulis surat dengan suami mereka yang merantau . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbatasan pendidikannya tidak menghalanginya untuk berbagi pada sesama wanita. Gunjingan dari sesama wanita yang iri padanya sangat menghambat sebagian langkahnya. Sebuah gunjingan tidak bertanggungjawab juga menghambat langkahnya untuk pergi ke Eropa. Padahal kepergian Roehana ke Eropa itu bisa menjadi pengalaman berharga di masa depan. Ia adalah ibu bagi jurnalis Indonesia dan sekaligus melibatkan diri secara aktif dalam pendidikan khusus perempuan Indonesia walau dalam batas-batas geografis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggit Garnasih adalah seorang wanita berjuang untuk pria, seperti Inggit telah berjuang begitu banyak atas diri Soekarno dan perjuangannya. Hampir semua kebutuhan Soekarno dipenuhi Inggit. Ironis memang kehidupan Inggit, harusnya sebagai seorang istri seorang Insinyur dirinya bisa hidup nyaman di zaman Hindia Belanda. Tapi Inggit tidak pernah meminta kenyamanan hidup dari suaminya. Apa yang terjadi kemudian, Inggit nyaris tidak merasakan hasil jerih payahnya memperjuangkan Soekarno. Inggit tidak pernah meminta balasan apapun. Apa yang diberikan Soekarno padanya, ketika meninggalkannya untuk menikah lagi, tidak lain dari pada sakit hati yang harus ditanggungnya sebagai wanita terhormat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita yang pernah memperjuangkannya dengan gigih dan setia, oleh Soekarno itu dicampakannya demi kehidupannya yang cerah di masa depan. Selepas dari Soekarno, Inggit masih bisa menghadapi kehidupan seperti biasa. Seperti sebelum dirinya menikah dengan Soekarno. Inggit mampu bertahan hidup karena dirinya sejak awal memang tipikal wanita pekerja keras. Inggit tidak akan sulit hidupnya tanpa kehadiran Soekarno. Tapi entah seperti apa jika dibayangkan Soekarno tanpa Inggit dalam pengasingan. Bagaimana pun, Inggit dalam hubungannya dengan Soekarno adalah tipe wanita yang memberi dan nyaris tanpa pernah meminta lebih. Balasan dari Soekarno pun Inggit tidak meminta, meski dirinya ditinggalkan Soekarno. Sebagai wanita tangguh dan bermental baja, Inggit mampu menjadi dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggit tidak berada dibawah bayang-bayang Soekarno. Inggit justru memberi warna hebat dalam kehebatan Soekarno. Soekarno memang harus Inggit, wanita yang disakitinya, adalah wanita terhebat dalam kehidupan Soekarno. Betapa seorang wanita bekerja keras untuk seorang laki-laki. Hubungan Inggit dan Soekarno, seperti hubungan singa jantan dengan singa betina. Sebagai singa betina, Inggit harus berburu mencari makan untuk singa jantan. Selesai singa jantan makan, maka giliran singa betina dan anak-anak singa yang makan. Sementara itu, sebagai singa jantan, Soekarno hanya bisa memperlihatkan kejantanannya saja. Ia adalah ibu kos yang kemudian bersulih menjadi ibu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Indonesia pernah mencatat nama-nama wanita yang memimpin sebuah negeri. Sebutlah Ratu Shima, We Tenriolle hingga Megawati—yang tercatat sebagai Presiden wanita pertama dalam sejarah politik Indonesia. Para wanita memberikan contoh bahwa di Indonesia sekalipun, seorang wanita bisa menjadi seorang pemimpin. Mereka tidak hanya menjadi pendamping suaminya yang berkuasa. Seorang wanita bernama Safiatuddin Johan Berdaulat, putri dari Sultan Iskandar Muda, pernah dinobatkan sebagai Sultanah Aceh. Wanita menghadapi kondisi terpaksa menjadi Sultanah karena putra mahkota Aceh, saudara lelakinya, dihukum mati karena sebuah kesalahan. Awalnya suami Safiatuddin yang ditunjuk sebagai pengganti Iskandar Muda. Suami Safiatuddin itu pun tidak panjang usianya. Lalu dirinya yang harus maju memimpin Aceh selama sekitar 30 tahun. Selain Safiatuddin yang dari Aceh, ada contoh penguasa wanita lainnya, dia adalah We Tenriolle yang berkuasa selama 55 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We Tenriolle yang kurang dikenal dalam sejarah Indonesia. Dia adalah penguasa wanita negeri Tanette di Sulawesi Selatan. Sebaai penguasa, dia pernah mendirikan sekolah rendah modern yang menerima murid-murid wanita pada 1908.   We Tenriolle menjadi penguasa Tanette sejak 1855. We Tenriolle berkuasa di Tanette ketika Victoria berkuasa atas Inggris Raya. Mereka menjadi penguasa wanita dengan kurun waktu yang cukup lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We Tenriolle nyaris tidak dikenal dalam sejarah Indonesia. Nama wanita sangat jarang dijumpai dalam tulisan-tulisan sejarah, termasuk sejarah Sulawesi Selatan. Mungkin ini karena Tanette bukan kerajaan besar dan terkenal seperti Kerajaan Gowa—yang dipimpin Sultan Hasanudin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sebagai penguasa wanita yang ahli dalam pemerintahan, We Tenriolle juga wanita yang peduli dengan kesusastraan Bugis kuno, I La Galigo. We Tenriolle belajar sastra ini dari ibunya, Arung Pancana. I La Galigo, atas jasa We Tenriolle dan Arung Pancana bisa dikenal di Negeri Belanda dan dunia. Hal ini dikarenakan ibu dan anak itu berhubungan dengan seorang ahli bahasa kebangsaan Belanda bernama Matthes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita lain yang bergelut di bidang politik selain We Tenriolle adalah Megawati. Kedua berasal dari zaman yang berbeda. Megawati Soekarno adalah presiden wanita pertama di Indonesia. Sebagai putri Soekarno, Megawati bisa dibilang berada dibawah bayan-bayang ayahnya. Hal ini adalah modal utama, bagaimanapun Soekarno adalah orang berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Orang-orang Indonesia tidak akan melupakannya dan Mega adalah titisan yang menyimpan kharisma Soekarno untuk memimpin Indonesia.&lt;br /&gt;Karier politiknya begitu berliku karena tekanan dari rezim orde baru. Sosok yang begitu pendiam ini mulai menapaki politik bersama Partai Demokrasi Indonesia, dimana pengaruh ayahnya begitu kuat dalam partai ini. Partai ini juga terbilang berani bersebrangan dengan penguasa sebelum Reformasi bergulir. Tekanan rezim orde baru tidak mematikan karir Megawati. Dukungan atas dirinya terus mengalir hingga orde baru ditumbangkan oleh Reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu 1999, memang mampu menaikan Megawati dan partainya sebagai pemeneng besar dalam Pemilu. Dalam pemilu orde baru, PDI selalu dikalahkan oleh partai dukungan penguasa. Meski Megawati menang dalam pemilu, namun posisi Presiden kala itu diposisikan pada Gus Dur. Megawati baru naik menjadi Presiden setelah Gus Dur turun dari jabatan itu setelah sebuah Sidang Istimewa. Megawati pun tidak lama menjadi Presiden, tidak sampai lima tahun. Pemilu tahun 2004 tidak lagi menunjuk Megawati sebagai pimpinan Republik Indonesia. Tapi sejarah menabalkannya sebagai Ibu Presiden Indonesia yang pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga wanita yang tidak menjadi penguasa namun begitu berpengaruh dalam kekuasaan. Wanita adalah pendamping suaminya yang menjadi penguasa. Tien Soeharto adalah Ibu Negara paling utuh. Hal ini sangat memungkinkan karena Soeharto hanya memiliki Tien sebagai istrinya. Berbeda jauh dengan Soekarno yang memiliki banyak istri. Orang Indonesia mungkin akan bingung menjawab siapa yang menjadi Ibu Negara di masa Orde Lama. Tien tetap harus diposisikan sebagai Ibu Negara paling utuh pertama dalam sejarah adanya Ibu Negara Republik ini. Ia adalah ibu pembangunan bagi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tokoh disini digambarkan semanusiawi mungkin dalam kacamata kami, sejarawan muda. Harus disadari bahwa tidak ada manusia yang sepenuhnya putih maupun sepenuhnya hitam dalam sejarah manusia. Dunia ini hanya memiliki manusia yang abu-abu. Setiap manusia menyimpan sisi hitam dan putihnya sendiri-sendiri. Begitu pun para tokoh tadi, mereka juga punya sikap yang mungkin menurut kita tidak berkenan. Namun mereka juga memiliki sifat yang kita teladani. Tidak semua buah rasanya manis, begitupun sejarah. Tidak ada sejarah yang hanya memiliki sisi indah saja, sisi kelam pun dimiliki sejarah. Sejarah yang hanya menyajikan keindahan saja sungguh tidaklah manusiawi. Penilaian baik yang berlebihan dalam sebuah historiografi akan menimbulkan kesan pembodohan dan tidak jujur dimata orang-orang kritis. (Petrik Metanasi, editor)   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERTARIK? HUB NO. 0888-692-6884 (MBAK NURUL HIDAYAH) atau email: iboekoe@gmail.com. RABAT HINGGA 30% SETIAP PEMBELIAN. BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM (DILUAR JOGJA&amp;JAWA)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6035754299018148413-8398376559570251055?l=bukubaru-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/feeds/8398376559570251055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6035754299018148413&amp;postID=8398376559570251055' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/8398376559570251055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/8398376559570251055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/2008/09/7-ibu-bangsa.html' title='7 Ibu Bangsa'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SNO4e0dgP-I/AAAAAAAAAOg/cnaMl2CKbdk/s72-c/Ibu+Bangsat+HC.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6035754299018148413.post-3727303289788260457</id><published>2008-09-19T06:00:00.001-07:00</published><updated>2008-09-21T19:59:09.401-07:00</updated><title type='text'>7 Bapak Bangsa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SNO2aCbJhPI/AAAAAAAAAOY/5jSHsLZQwfk/s1600-h/Bpk+Bangsat+HC.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SNO2aCbJhPI/AAAAAAAAAOY/5jSHsLZQwfk/s320/Bpk+Bangsat+HC.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247738549260354802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Iswara N Raditya, dkk&lt;br /&gt;Penerbit: RahZenbook&lt;br /&gt;Tebal: 602 halaman&lt;br /&gt;Harga: Rp 150.000&lt;br /&gt;NOTE: Hanya edisi terbatas HARDCOVER dan dilayani jika ada pesanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini membincangkan tentang bapak dan kebangsaan nasional. Mengulik ihwal peran para Bapak Bangsa--dengan spesialisasi mereka masing-masing--dalam menggagas, membentuk, serta membangun Indonesia. Kesadaran berbangsa mulai timbul justru ketika asa kerap terkikis manakala peperangan demi peperangan yang dilakoni para pemimpin lokal tiada membuahkan gemilang. Kolonialis Belanda selalu unggul di segala sektor. Tidaklah mengherankan, para pejuang lokal nyaris selalu lebur di setiap titik tempur.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berakhirnya abad ke-19 berarti pula mempersiapkan gaya juang model baru. Tak lagi dengan baku hantam dan adu pukul yang tak terwadahi dalam kesatuan, melainkan dengan bersenjatakan otak, pena, juga menghimpun aksi massal. Gerakan rakyat yang tampil dalam bentuk-bentuk seperti suratkabar dan jurnal, rapat dan pertemuan, serikat buruh dan pemogokan, organisasi dan partai, novel, nyanyian, teater, dan pemberontakan, merupakan fenomena yang paling mencolok bagi orang Belanda untuk melihat kebangkitan Bumiputera pada awal abad ke-20.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembebas yang kelak mewujud sebagai para Bapak Bangsa Indonesia mulai bermunculan. Mereka akan buat sadar bahwa bangsa ini bukan bangsa terperintah, bukan bangsa kuli dan menjadi kuli di antara bangsa-bangsa, bukan inlander goblok yang hanya pantas untuk diludahi, juga bukanlah penduduk kelas kambing yang berjalan menyuruk-nyuruk memakai sarung dan ikat kepala, merangkak-rangkak seperti yang dikehendaki oleh majikan-majikan kolonial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh "Bapak Bangsa" yang disajikan dalam buku ini, seperti Ki Hadjar Dewantara, Mohammad Hatta, Soedirman, Soeharto, Soekarno, Tirto Adhi Soerjo, dan Tjokroaminoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai Sang Pemula, tampillah Tirto Adhi Soerjo (1880-1918). Dialah Bumiputera yang pertama-tama menyuluh dan membela rakyat melalui kuasa media massa. Pada 1903, Tirto menerbitkan Soenda Berita. Inilah suratkabar orang Indonesia pertama yang dimodali, dikelola, serta diisi tenaga-tenaga Bumiputera sendiri. Tirto, Raden Mas dari Blora, kembali menerjang pada 1907 dengan meluncurkan &lt;i&gt;Medan Prijaji&lt;/i&gt; yang menjadi suratkabar advokasi rakyat yang, untuk pertamakalinya di Indonesia, memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada rakyat tertindas. &lt;i&gt;Medan Prijaji&lt;/i&gt; benar-benar sudah menjadi medan berkelahi. Tirto adalah Bapak Pers Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penerus setelah Tirto Adhi Soerjo “dipensiunkan” dari medan pergerakan, nama Oemar Said Tjokroaminoto (1882-1934) melejit, awal 1913.  Dia penggerak massa terbesar dan teroganisir pertama, karena di kurun sebelumnya belum pernah ada organisasi yang memiliki massa sebesar Sarekat Islam (SI) pada era Tjokroaminoto memimpin, juga dalam metode perjuangannya yang modern. Memadukan Islam dan politik, Tjokroaminoto menjulang sebagai “Raja Jawa yang Tidak Pernah Dinobatkan”, demikian Belanda menyebutnya. Karena kuatnya pengaruh Tjokroaminoto dalam memobilisasi massa di bawah SI, dia juga dikenal dengan julukan “Gatotkoco Sarekat Islam.” Tjokro adalah Bapak Pergerakan Islam Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Tjokroaminoto sedang memulai masa-masa jayanya, terdapatlah seorang pangeran dari Kraton Pakualaman yang membikin geger dunia kolonial. Beringsut dari Jogjakarta ke Bandung, Soewardi Soerjaningrat (1889-1959) menabalkan dirinya sebagai Bumiputera paling pemberani, menggebrak pemerintah dengan tulisan legendarisnya berjudul “Als ik eens Nederlander Was” atau “Seandainya Saya Seorang Belanda”. Soewardi mengecam perayaan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda dari penjajahan Prancis yang dirayakan di Indonesia, yang justru masih dijajah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat keberanian itu, Soewardi kemudian dibuang ke Belanda sejak 1913, dan baru kembali ke tanah air pada 1919. Sempat bergabung kembali dengan kerasnya dunia pergerakan--dan sempat pula dipenjara--garis juang Soewardi mendadak beralih jalur demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Dia tak lagi radikal, lebih bijaksana, dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Jogjakarta.  Beberapa tahun kemudian, 28 Februari 1928, Soewardi Soerjaningrat mengubah namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara yang berarti “Guru Perantara Dewa”. Sejak itu pula, predikat sebagai “Bapak Pendidikan Nasional” mulai meresap ke nama besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlanjut ke dwitunggal Soekarno-Hatta. Keduanya berjalan di masa yang seiring, setingkat di bawah era Tjokroaminoto dan Ki Hadjar Dewantara. Soekarno-Hatta seringkali padu namun tak jarang pula bertolak belakang. Bahkan Soekarno pernah menyatakan Hatta sebagai “musuh” alamiahnya.  Hatta pun sempat menyebut Soekarno sebagai “seorang diktator yang mengagungkan dirinya sendiri dan lupa daratan.”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno (1901-1970) mulai bersinar benderang memasuki dekade 1920-an, berlanjut dengan pendirian Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927. Bersama PNI, lelaki kelahiran Blitar itu bergerak berani, mencemaskan pemerintah kolonial. Sampai akhirnya--setelah beberapa kali dibui--Soekarno dihukum buang. Manifesto politiknya, “Indonesia Menggugat”, yang disampaikan di hadapan majelis hakim di pengadilan negeri Bandung, menjadi pembelaan dirinya sebelum akhirnya dia dibuang ke Flores, kemudian dipindah ke Bengkulu, sampai kedatangan tentara Jepang tahun 1942.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Mohammad Hatta (1902-1980), si putera Minang kelahiran Bukitinggi, Sumatera Barat, mulai aktif di pergerakan nasional dengan meretas karir sebagai bendahara berbagai perhimpunan, dari Jong Sumatranen Bond (JSB) di Padang dan Batavia, lalu ketika Hatta belajar ekonomi di Indische Vereeniging (IV), organisasi pelajar Indonesia di Belanda –kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan  Indonesia (PI)– yang kemudian dipimpinnya. Sama seperti Soekarno, pergerakan Hatta membuatnya ditangkap pemerintah Belanda pada 23 September 1927. Hatta pun melancarkan pledoi politiknya yang berjudul “Indonesie Vrij” atau “Indonesia Merdeka”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 10 tahun lebih 10 bulan Hatta hidup di Belanda, ia akhirnya berangkat pulang ke tanah air pada 20 Juli 1932, dengan menggondol titel Doktorandus dari Nederlandsch Handelshogeschool te Rotterdam (Sekolah Tinggi Dagang Rotterdam). Dengan kemampuan mumpuni inilah, terutama ihwal ekonomi-koperasi, Hatta tak pelak didaulat sebagai “Bapak Ekonomi Indonesia”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), Soekarno-Hatta akur kembali. Bahkan ketika Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945, dwitunggal inilah yang menjadi proklamatornya, atas nama bangsa Indonesia, dan berlanjut dengan terpilihnya kedua tokoh itu sebagai presiden dan wakil presiden RI yang pertama. Namun kemesraan itu tak langgeng. Lagi-lagi karena perbedaan pandangan politik, dwitunggal bercerai. Hatta mengundurkan diri dari jabatan wapres tanggal 1 Desember 1956, setelah sempat membuat prestasi paling gemilang dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, 23 Agustus-29 Oktober 1949, yang menghasilkan penyerahan kekuasaan penuh dari Kerajaan Belanda kepada Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno akhirnya melenggang sendirian. Meneruskan Revolusi Indonesia –yang dianggapnya belum selesai– di bawah kendalinya sebagai “Pemimpin Besar Revolusi”. Keteguhan dan ketunggalan itu pula yang mengantarkan sang penyambung lidah rakyat Indonesia itu sebagai pemimpin tertinggi, sebagai “Bapak Revolusi Indonesia”, hingga akhirnya Soekarno terpaksa hanya bisa gigit jari melihat sepakterjang seorang anak desa, Soeharto, yang di kemudian hari menggantikannya duduk di singgasana RI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membahas apa dan siapa si anak desa yang mujur itu, penggalan sejarah Indonesia pascakemerdekaan mau tak mau harus terlebih dulu menolehkan pandangan kepada seorang anak desa lainnya, Soedirman namanya. Soedirman (1916-1950), kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah, di masa remajanya aktif menempa diri di kawah pergerakan melalui organisasi kepanduan Hisbul Wathon (HW) dan Muhammadiyah.  Sempat menjadi pengajar di guru di sekolah menengah Muhammadiyah Cilacap, Soedirman nyatanya malah menjadi besar lewat kerasnya dunia militer. Dia bergabung dengan kesatuan Pembela Tanah Air (PETA), bentukan Jepang, pada 1943.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, Soedirman kembali menekuni ranah tentara dan dipercaya sebagai Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) wilayah Banyumas. Prestasi yang paling menentukan arah kehidupan Soedirman selanjutnya adalah keberhasilannya memukul mundur pasukan Belanda pada Desember 1945 dalam peristiwa Palagan Ambarawa, sebagai upaya mempertahankan kedaulatan RI. Atas prestasi itu, Soedirman terpilih sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat, angkatan perang RI yang pada akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panglima Besar Jenderal Soedirman adalah penentang jalur diplomasi dengan Belanda yang dilakoni para pemimpin negara RI. Dengan kondisi tubuh yang sakit parah, Soedirman tetap memimpin perang gerilya hingga akhirnya Soekarno memintanya menghentikan pertempuran dengan disepakatinya penyerahan kedaulatan secara penuh dari Kerajaan Belanda kepada Indonesia pada 1949. “Bapak Tentara Nasional Indonesia” Soedirman wafat dalam usia muda karena sakit yang dideritanya, namun namanya tetap menjadi yang terdepan dalam sejarah ketentaraan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak desa dari Kemusuk, Jogjakarta, Soeharto (1921-2008) muncul sebagai pahlawan di saat kondisi negara sedang labil. Insiden Gerakan 30 September 1965--dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Angkatan Darat (AD) sebagai aktor utamanya--yang memakan korban para perwira tertinggi AD, menjadikan impian Soeharto untuk menggapai langit-langit kepemimpinan militer terwujud. Ia segera diangkat menjadi Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) dan Menteri Panglima Angkatan Darat untuk mengendalikan situasi keamanan dalam negeri. Lembar sakti SUPERSEMAR (Surat Perintah Sebelas Maret 1966) kian memperlancar urusan, bahkan terbuka peluang untuk merajai puncak kuasa pemerintahan, militer dan sipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keraguan Soekarno dalam menyikapi kondisi perpolitikan, dengan masih getol mempertahankan sosialisme sebagai rangkaian tak terpisahkan dari konsep NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis), membikin Soeharto dengan mudah mampu menguasai media, massa, dan mahasiswa. Akhirnya Soekarno terguling juga, dan arus politik mengantarkan Soeharto menduduki tahta sebagai Presiden RI ke-2. Jenderal Soeharto resmi dilantik pada 27 Maret 1968.  Selama lebih dari 30 tahun, Indonesia berkonsentrasi pada peningkatan ekonomi dan pembangunan. Swasembada pangan yang berhasil dicapai pada 1985 melejitkan namanya sebagai salahseorang kepala negara berkembang yang paling sukses.  Sederet program yang ditawarkan dan dijalankannya, mulai dari Repelita, Keluarga Berencana, transmigrasi, pemerataan pembangunan, dan lainnya, kian memperkokoh Soeharto sebagai pemimpin besar berjuluk “Bapak Pembangunan Indonesia”. Terlepas dari segala kontroversi dan intrik yang senantiasa mengikuti Soeharto sejak lengser keprabon hingga pungkasan nafasnya, peran besar sang jenderal dalam membangun Indonesia tetap tak terbantahkan, bahkan dunia pun mengakuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERTARIK? HUB NO. 0888-692-6884 (MBAK NURUL HIDAYAH) atau email: iboekoe@gmail.com. RABAT HINGGA 30% SETIAP PEMBELIAN. BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM (DILUAR JOGJA&amp;JAWA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6035754299018148413-3727303289788260457?l=bukubaru-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/feeds/3727303289788260457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6035754299018148413&amp;postID=3727303289788260457' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/3727303289788260457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/3727303289788260457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/2008/09/7-bapak-bangsa.html' title='7 Bapak Bangsa'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SNO2aCbJhPI/AAAAAAAAAOY/5jSHsLZQwfk/s72-c/Bpk+Bangsat+HC.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6035754299018148413.post-600345366489106827</id><published>2008-02-05T22:40:00.001-08:00</published><updated>2008-09-21T19:58:26.299-07:00</updated><title type='text'>Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R6lYKne3gBI/AAAAAAAAAM8/2G2zoSHMjxk/s1600-h/Seratus-Tokoh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R6lYKne3gBI/AAAAAAAAAM8/2G2zoSHMjxk/s200/Seratus-Tokoh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163755387177369618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Penulis: Taufik Rahzen, Muhidin M Dahlan, Agung Dwi Hartanto, Rhoma Dwi Yuliantri, Iswara N Raditya, dkk&lt;br /&gt;Penerbit: I:BOEKOE (2007)&lt;br /&gt;Tebal: 456 halaman&lt;br /&gt;Harga: 75.000&lt;br /&gt;Jenis: Tokoh Pers&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak pers Indonesia bisa dibaca sebagai jalan panjang ikhtiar merumahkan bahasa Indonesia, yang kelak membangun ikatan tanah dan air untuk memelihara kesadaran berbangsa. Jalan panjang ini telah dan akan melahirkan ribuan koran beserta tokohnya masing-masing.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh yang terhimpun dalam buku ini menunjuk pada semangat jalan pers kita dan upaya para pengelolanya yang bekerja sepenuh jiwa dalam mengartikulasikan dan memberi sumbangan kepada bahasa Indonesia dan tanah air dalam upaya membangun citra untuk apa dan dalam posisi apa nasionalisme dibangun dari kurun ke kurun. Ini adalah rekam jejak upaya-upaya manusia Indonesia, dalam hal ini mereka yang berada di jalur pers dan jurnalisme. Mereka ingin membangun, memelihara, memberi citra, menaklukkan, sekaligus memberi penghuni pada bahasa Indonesia. (Taufik Rahzen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 6 April 2008 | 00:19 WIB&lt;br /&gt;Kiprah 100 Tokoh Pers Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirto Adhi Soerjo memulai karyanya sebagai jurnalis saat berusia 22 tahun lewat surat kabar Pembrita Betawi. Setahun kemudian Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita, selanjutnya Medan Prijaji pada 1907. Kehadiran Medan Prijaji membuat khalayak mempunyai sarana berkeluh kesah lewat media surat kabar. Meskipun mendapatkan tekanan pemerintah kolonial, Tirto melaju dengan menerbitkan pula Soeloeh Keadilan dan Poetri Hindia. Tak berlebihan apabila Tirto disebut sebagai "pengguncang Bumiputera dari bangun tidurnya’ oleh sang murid, Marco Kartodikromo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas jurnalis Siti Roehana Koedoes juga menarik untuk disimak. Perempuan ini hampir terlupakan, padahal dia berperan menghadirkan surat kabar khusus perempuan pada tahun 1912 lewat Soenting Melajoe. Kiprahnya dilatari keinginan mencerahkan perempuan Indonesia lewat kegiatan membaca surat kabar. Wanita kelahiran Kota Gadang ini menggoyahkan peraturan adat yang mapan kala itu melalui tulisan-tulisan yang menekankan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Meski bukan surat kabar khusus perempuan pertama, Soenting Melajoe berbeda dengan pendahulunya seperti Poetri Hindia. Soenting Melajoe hadir atas inisiatif perempuan yang memaknai aktivitas membaca surat kabar layaknya meminum air laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini terangkum dalam publikasi yang diterbitkan dalam rangka memperingati Hari Pers Indonesia dan ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia yang bertepatan dengan hari penguburan Tirto Adhi Soerjo. Di antara 100 tokoh yang dipilih terdapat nama Dja Endar Moeda, Douwes Dekker, Sutan Takdir Alisjahbana, SK Trimurti, Rosihan Anwar, Petrus Kanisius Ojong, Goenawan Muhammad, Dahlan Iskan, Seno Gumira Ajidarma, Maria Hartiningsih, Fuad Muhammad Syafruddin (Udin), hingga Bondan Winarno. Publikasi ini tidak bertujuan membuat pemeringkatan tokoh, namun berupaya menunjukkan perjuangan mereka mengawal bahasa Indonesia sesuai gaya dan karakteristik penulisan masing-masing. (SHS/Litbang Kompas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Pendekar Pers Kalsel&lt;br /&gt;Selasa, 12-02-2008 | 01:20:24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya Pers yang menjadi palang pintu terakhir sebagai wahana rakyat untuk berwacana dan menyampaikan pendapat bahkan kontrol sosial dan bila perlu terhadap pemerintah atau dunia usaha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu meluncur dari mulut almarhum Huzai Junus Djok Mentaya, salah seorang pendiri harian Banjarmasin Post, menyikapi gerak pers yang kerap terbelenggu aturan penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djok Mentaya tidak sendirian dalam membangun Banjarmasin Post. Dua tokoh lainnya, HG Rusdi Effendi AR dan Yustan Azzidin (alm) turut membantu harian tertua di Kalimantan ini hingga sebesar sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran tiga tokoh pers di Kalimantan Selatan ini terekam dalam sebuah buku berjudul Tanah Air Bahasa, memuat Seratus jejak Pers Indonesia (Tokoh-tokoh pers tanah air).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku setebal 460 halaman terbitan Indonesia Buku (I:boekoe) disusun Taufik Rahzen, et.al ini dipersembahkan secara khusus untuk memperingati hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) ke- 62.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada buku ini, HJ Djok Mentaya, HG Rusdi Effendi Ar dan Yustan Aziddin sebagai tiga pendekar. Kombinasi tiga dedengkot pers Kalsel itu menghasilkan kombinasi kerja yang ideal. Banjarmasin Post adalah penggabungan dari militansi seorang Djok Mentaya, inspirasi jenius Yustan Aziddin dan kemampuan manajerial yang mumpuni HG Rusdi Effendi AR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga serangkai tokoh pers banua ini disandingkan dengan tokoh-tokoh pers nasional seperti pendiri Kompas Gramedia, Yacob Oetama, CEO Jawa Pos, Dahlan Iskan, Dawam Raharjo, Goenawan Muhammad bahkan tokoh pers masa penjajahan Belanda macam dr Wahidin Sudirihusodo dan KH Ahmad Dahlan. (Banjarmasin Post, 12 Februari 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERTARIK? HUB NO. 0888-692-6884 (MBAK NURUL HIDAYAH) atau email: iboekoe@gmail.com. RABAT HINGGA 30% SETIAP PEMBELIAN. BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM (DILUAR JOGJA&amp;JAWA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6035754299018148413-600345366489106827?l=bukubaru-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/feeds/600345366489106827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6035754299018148413&amp;postID=600345366489106827' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/600345366489106827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/600345366489106827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/2008/02/tanah-air-bahasa-seratus-jejak-pers_05.html' title='Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R6lYKne3gBI/AAAAAAAAAM8/2G2zoSHMjxk/s72-c/Seratus-Tokoh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6035754299018148413.post-6084321585715433035</id><published>2008-02-05T22:20:00.000-08:00</published><updated>2008-09-21T19:57:47.476-07:00</updated><title type='text'>Jangan Menangis Ibu! Kisah Nyata 16 Perempuan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RySr1v-EX0I/AAAAAAAAAMg/tDXfB-Ntlqw/s1600-h/Ibu+Jangan+Nangis+OK.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5126411215752683330" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 91px; height: 149px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RySr1v-EX0I/AAAAAAAAAMg/tDXfB-Ntlqw/s200/Ibu+Jangan+Nangis+OK.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Penulis: Ayu Arman&lt;br /&gt;Penerbit: I:BOEKOE (2007)&lt;br /&gt;Tebal: 200 halaman&lt;br /&gt;Ukuran: 12 x 19 cm&lt;br /&gt;Harga: Rp 35.500&lt;br /&gt;Jenis Buku: Kisah Nyata, Perempuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menangis karena menghadapi ujian dan musibah yang berat adalah fitrah manusia. Menangis karena berbuat dosa adalah karunia. Menangis karena marah kepada perbuatan Allah adalah petaka. Jangan Menangis, Ibu!, sebuah tulisan yang dikemas dengan menarik dan menyentuh hati. Buku ini bisa menjadi referensi para pembaca untuk merenungkan arti kehidupan.”  (Ummu Ghaida Muthmainnah/Teh Ninih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam belas perempuan dalam buku ini adalah enam belas kisah tentang kekerasan yang mengambil bentuk yang berbeda-beda. Kisah mereka adalah kisah tentang keteguhan pikir dan kejernihan jiwa menunggang kesedihan yang kerap tak tertanggungkan. Mereka geluti kekerasan dan kesedihan itu seinci demi seinci. Tapi mereka tak lantas putus asa. Sebab dari keteguhan dan kesabaran yang membara itu selalu ada jalan keluar. Sekecil apa pun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERTARIK? HUB NO. 0888-692-6884 (MBAK NURUL HIDAYAH) atau email: iboekoe@gmail.com. RABAT HINGGA 30% SETIAP PEMBELIAN. BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM (DILUAR JOGJA&amp;JAWA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6035754299018148413-6084321585715433035?l=bukubaru-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/feeds/6084321585715433035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6035754299018148413&amp;postID=6084321585715433035' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/6084321585715433035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/6084321585715433035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/2008/02/jangan-menangis-ibu.html' title='Jangan Menangis Ibu! Kisah Nyata 16 Perempuan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RySr1v-EX0I/AAAAAAAAAMg/tDXfB-Ntlqw/s72-c/Ibu+Jangan+Nangis+OK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6035754299018148413.post-9212353037046184840</id><published>2007-11-16T17:31:00.001-08:00</published><updated>2008-02-05T23:38:06.304-08:00</updated><title type='text'>Ensiklopedia Sastra Dunia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R6lbmHe3gCI/AAAAAAAAANE/wte28oJoQ5U/s1600-h/Ensiklopedi+Sastra+Dunia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R6lbmHe3gCI/AAAAAAAAANE/wte28oJoQ5U/s200/Ensiklopedi+Sastra+Dunia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163759158158655522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Penulis: Anton Kurnia&lt;br /&gt;Penerbit: Penerbit I:BOEKOE (2006)&lt;br /&gt;Tebal: 314 halaman&lt;br /&gt;Ukuran: 15 x 24 cm&lt;br /&gt;Harga: Rp 50.000&lt;br /&gt;Jenis: Sastra, Tokoh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini disusun untuk membantu mereka yang berminat membaca dan menyingkap khazanah sastra dunia, serta mencari tahu tentang riwayat hidup, proses kreatif, dan intisari karya sejumlah sastrawan penting yang menulis dalam beragam genre--cerpen, novel, puisi, esai, lakon. Sebagai sebuah ensiklopedia sederhana dan pengantar menuju sastra dunia, buku ini memuat profil 315 sastrawan terkemuka di pelbagai penjuru dunia dari pelbagai zaman--sejak pujangga Yunani zaman silam Homer hingga pemenang Hadiah Novel Sastra 2005, Harold Pintar--dilengkapi informasi tentang karya-karya mereka yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu disertakan pula pelbagai data tentang karya-karya terbaik sepanjang masa dan sejumlah hadiah sastra terkemuka--di antaranya Hadiah Nobel Sastra, Booker Prize, Pulitzer Prize, Prix Concourt, Premio Strega, Permio Cervantes, Hadiah Sastra Akutagawa--termasuk daftar para pemenangnya. Buku ini bisa dibaca dan digunakan oleh beragam kalangan secara luas: pencinta buku, peminat sastra.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6035754299018148413-9212353037046184840?l=bukubaru-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/feeds/9212353037046184840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6035754299018148413&amp;postID=9212353037046184840' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/9212353037046184840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/9212353037046184840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/2007/11/bodoh-sekali-orang-itu-dia-seharusnya.html' title='Ensiklopedia Sastra Dunia'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R6lbmHe3gCI/AAAAAAAAANE/wte28oJoQ5U/s72-c/Ensiklopedi+Sastra+Dunia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6035754299018148413.post-2711820873557634878</id><published>2007-10-05T23:10:00.000-07:00</published><updated>2008-02-05T23:30:06.605-08:00</updated><title type='text'>Tuntutlah Ilmu Sampai ke Nippon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R6lfXHe3gDI/AAAAAAAAANM/NES_ZbKiDxY/s1600-h/nippon.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R6lfXHe3gDI/AAAAAAAAANM/NES_ZbKiDxY/s200/nippon.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163763298507128882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#666666;"&gt;Penulis: Ika Dewi Ana&lt;br /&gt;Penerbit: I:BOEKOE (2006)&lt;br /&gt;Tebal: 246 halaman&lt;br /&gt;Ukuran: 12 x 18 cm&lt;br /&gt;Harga: Rp 32.500&lt;br /&gt;Jenis Buku: Biografi, Traveling, Edukasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menceritakan seluk beluk pengalaman belajar dan hidup di Jepang selama lima tahun. Ika Dewi Ana memperkenalkan kepada Anda corak interaksi dengan kebudayaan, bahasa, dan huruf kanji, serta makanan Jepang dan sekaligus strategi-strategi kecil memperkenalkan tradisi Indonesia secara elegan. Buku ini juga memberitahu Anda siasat hidup sehari-hari dengan masyarakat jepang yang serba teratur, disiplin, dan ulet dan sekaligus buku ini bisa memandu Anda berkunjung ke pelosok-pelosok Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan perjalanan yang ditulis dengan menggabungkan kecermatan jurnalistik dan keanggunan sastrawi ini berguna bagi mereka yang selain harus menjalankan tugas belajar, juga harus tetap menjalankan tugas sebagai istri atau suami, dan ibu atau ayah dalam suatu keluarga yang kedua-duanya bersekolah, dan terutama untuk menjadi duta bangsa di negeri orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6035754299018148413-2711820873557634878?l=bukubaru-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/feeds/2711820873557634878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6035754299018148413&amp;postID=2711820873557634878' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/2711820873557634878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/2711820873557634878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/2008/02/tuntutlah-ilmu-sampai-ke-nippon.html' title='Tuntutlah Ilmu Sampai ke Nippon'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R6lfXHe3gDI/AAAAAAAAANM/NES_ZbKiDxY/s72-c/nippon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6035754299018148413.post-3499134621882182669</id><published>2007-09-22T22:22:00.000-07:00</published><updated>2007-09-22T22:23:07.893-07:00</updated><title type='text'>Middlesex karya Jeffrey Eugenides</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RpGi4jMknXI/AAAAAAAAAGM/Hw4_wcpfxqU/s1600-h/midlesex.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5085024546682346866" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 73px; height: 116px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RpGi4jMknXI/AAAAAAAAAGM/Hw4_wcpfxqU/s200/midlesex.jpg" border="0" height="120" width="80" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: Middlesex&lt;br /&gt;Pengarang: Jeffrey Eugenides, 2002&lt;br /&gt;Penerjemah: Berliani M. Nugrahani&lt;br /&gt;Penerbit: Serambi, Juni 2007&lt;br /&gt;Tebal: 810 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah manusia yang terlahir sebagai perempuan dan dewasa sebagai laki-laki. Sebuah perjuangan mengelola identitas yang terbelah. Secara serentak pada 9 Juli 2007 direkomendasikan oleh 7 bloger buku: &lt;a href="http://bukuygkubaca.blogspot.com/"&gt;H Tanzil&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://mon-secret-jardin.blogspot.com/"&gt;Dumaria Pohan&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://jodypojoh.blogdrive.com/"&gt;Jody&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://qyu.blogspot.com/"&gt;Q&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://perca.blogdrive.com/"&gt;Endah Sulwesi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://mmlubis.multiply.com/reviews"&gt;Maria Lubis&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://lemari-buku-ku.blogspot.com/"&gt;Ferina&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6035754299018148413-3499134621882182669?l=bukubaru-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/feeds/3499134621882182669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6035754299018148413&amp;postID=3499134621882182669' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/3499134621882182669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6035754299018148413/posts/default/3499134621882182669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bukubaru-iboekoe.blogspot.com/2007/09/middlesex-karya-jeffrey-eugenides.html' title='Middlesex karya Jeffrey Eugenides'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RpGi4jMknXI/AAAAAAAAAGM/Hw4_wcpfxqU/s72-c/midlesex.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
