Selasa, 05 Februari 2008

Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia

Penulis: Taufik Rahzen, Muhidin M Dahlan, Agung Dwi Hartanto, Rhoma Dwi Yuliantri, Iswara N Raditya, dkk
Penerbit: I:BOEKOE (2007)
Tebal: 456 halaman
Harga: 75.000
Jenis: Tokoh Pers


Jejak pers Indonesia bisa dibaca sebagai jalan panjang ikhtiar merumahkan bahasa Indonesia, yang kelak membangun ikatan tanah dan air untuk memelihara kesadaran berbangsa. Jalan panjang ini telah dan akan melahirkan ribuan koran beserta tokohnya masing-masing.

Tokoh-tokoh yang terhimpun dalam buku ini menunjuk pada semangat jalan pers kita dan upaya para pengelolanya yang bekerja sepenuh jiwa dalam mengartikulasikan dan memberi sumbangan kepada bahasa Indonesia dan tanah air dalam upaya membangun citra untuk apa dan dalam posisi apa nasionalisme dibangun dari kurun ke kurun. Ini adalah rekam jejak upaya-upaya manusia Indonesia, dalam hal ini mereka yang berada di jalur pers dan jurnalisme. Mereka ingin membangun, memelihara, memberi citra, menaklukkan, sekaligus memberi penghuni pada bahasa Indonesia. (Taufik Rahzen)


Minggu, 6 April 2008 | 00:19 WIB
Kiprah 100 Tokoh Pers Nasional

Tirto Adhi Soerjo memulai karyanya sebagai jurnalis saat berusia 22 tahun lewat surat kabar Pembrita Betawi. Setahun kemudian Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita, selanjutnya Medan Prijaji pada 1907. Kehadiran Medan Prijaji membuat khalayak mempunyai sarana berkeluh kesah lewat media surat kabar. Meskipun mendapatkan tekanan pemerintah kolonial, Tirto melaju dengan menerbitkan pula Soeloeh Keadilan dan Poetri Hindia. Tak berlebihan apabila Tirto disebut sebagai "pengguncang Bumiputera dari bangun tidurnya’ oleh sang murid, Marco Kartodikromo.

Aktivitas jurnalis Siti Roehana Koedoes juga menarik untuk disimak. Perempuan ini hampir terlupakan, padahal dia berperan menghadirkan surat kabar khusus perempuan pada tahun 1912 lewat Soenting Melajoe. Kiprahnya dilatari keinginan mencerahkan perempuan Indonesia lewat kegiatan membaca surat kabar. Wanita kelahiran Kota Gadang ini menggoyahkan peraturan adat yang mapan kala itu melalui tulisan-tulisan yang menekankan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Meski bukan surat kabar khusus perempuan pertama, Soenting Melajoe berbeda dengan pendahulunya seperti Poetri Hindia. Soenting Melajoe hadir atas inisiatif perempuan yang memaknai aktivitas membaca surat kabar layaknya meminum air laut.

Kisah ini terangkum dalam publikasi yang diterbitkan dalam rangka memperingati Hari Pers Indonesia dan ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia yang bertepatan dengan hari penguburan Tirto Adhi Soerjo. Di antara 100 tokoh yang dipilih terdapat nama Dja Endar Moeda, Douwes Dekker, Sutan Takdir Alisjahbana, SK Trimurti, Rosihan Anwar, Petrus Kanisius Ojong, Goenawan Muhammad, Dahlan Iskan, Seno Gumira Ajidarma, Maria Hartiningsih, Fuad Muhammad Syafruddin (Udin), hingga Bondan Winarno. Publikasi ini tidak bertujuan membuat pemeringkatan tokoh, namun berupaya menunjukkan perjuangan mereka mengawal bahasa Indonesia sesuai gaya dan karakteristik penulisan masing-masing. (SHS/Litbang Kompas)

Tiga Pendekar Pers Kalsel
Selasa, 12-02-2008 | 01:20:24

“Hanya Pers yang menjadi palang pintu terakhir sebagai wahana rakyat untuk berwacana dan menyampaikan pendapat bahkan kontrol sosial dan bila perlu terhadap pemerintah atau dunia usaha.”

Kalimat itu meluncur dari mulut almarhum Huzai Junus Djok Mentaya, salah seorang pendiri harian Banjarmasin Post, menyikapi gerak pers yang kerap terbelenggu aturan penguasa.

Djok Mentaya tidak sendirian dalam membangun Banjarmasin Post. Dua tokoh lainnya, HG Rusdi Effendi AR dan Yustan Azzidin (alm) turut membantu harian tertua di Kalimantan ini hingga sebesar sekarang.

Peran tiga tokoh pers di Kalimantan Selatan ini terekam dalam sebuah buku berjudul Tanah Air Bahasa, memuat Seratus jejak Pers Indonesia (Tokoh-tokoh pers tanah air).

Buku setebal 460 halaman terbitan Indonesia Buku (I:boekoe) disusun Taufik Rahzen, et.al ini dipersembahkan secara khusus untuk memperingati hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) ke- 62.

Pada buku ini, HJ Djok Mentaya, HG Rusdi Effendi Ar dan Yustan Aziddin sebagai tiga pendekar. Kombinasi tiga dedengkot pers Kalsel itu menghasilkan kombinasi kerja yang ideal. Banjarmasin Post adalah penggabungan dari militansi seorang Djok Mentaya, inspirasi jenius Yustan Aziddin dan kemampuan manajerial yang mumpuni HG Rusdi Effendi AR.

Tiga serangkai tokoh pers banua ini disandingkan dengan tokoh-tokoh pers nasional seperti pendiri Kompas Gramedia, Yacob Oetama, CEO Jawa Pos, Dahlan Iskan, Dawam Raharjo, Goenawan Muhammad bahkan tokoh pers masa penjajahan Belanda macam dr Wahidin Sudirihusodo dan KH Ahmad Dahlan. (Banjarmasin Post, 12 Februari 2008)


TERTARIK? HUB NO. 0888-692-6884 (MBAK NURUL HIDAYAH) atau email: iboekoe@gmail.com. RABAT HINGGA 30% SETIAP PEMBELIAN. BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM (DILUAR JOGJA&JAWA)

3 komentar:

haidar zadeh mengatakan...

saya tidak mengerti, apa yang menjadi dasar anda memasukkan playboy kedalam klasifikasi pembangun tanah air bahasa? toh majalah tersebut dan berasal dari luar negeri dan terbit ketika bahasa kita sudah berumah.

[I:BOEKOE] mengatakan...

Dalam pengantar buku itu sudah diberikan penjelasan. Play Boy memberi sebuah testimoni bagaimana dengan ekspansif mereka tawarkan bahasa eksporan. Tapi sayang, bahasa yang mereka masuki sudah berpenghuni. Akibatnya, ia mendapatkan penolakan luar biasa dari kaum yang merasa bahasa mereka terancam oleh serbuan "budaya" yang "bukan kita", tapi "mereka". Masuknya play boy, dalam hal ini, dimaksudkan sebagai ekses "negatif".

ulfah nur'aini mengatakan...

saya mau bertanya apa buku ini di jual??saya sulit menemukan buku ini